MATARAM — Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal membeberkan kondisi keuangan tiga BUMD yang disebutnya "sakit" itu pada Jumat (3/7/2026). Menurutnya, hanya Jamkrida yang masih dalam kondisi sehat. Bank NTBS dan BPR NTB memiliki non-performing loan (NPL) faktual di atas 12 persen, sementara GNE merugi hampir Rp 30 miliar yang seluruhnya disumbang oleh anak-anak usahanya.
"Kecuali Jamkrida, seluruhnya dalam kondisi tidak sehat," kata Iqbal dalam keterangan resminya.
Pembenahan Total Selama Setahun
Iqbal mengaku telah melakukan pembenahan total selama tahun pertama kepemimpinannya. Langkah yang diambil meliputi perombakan tata kelola bisnis, pergantian seluruh manajemen dengan tenaga profesional, hingga restrukturisasi kelembagaan. Ia juga mempercepat penyelesaian kewajiban perusahaan kepada pihak ketiga.
"Setelah melakukan pembenahan total selama tahun pertama, saat ini seluruh BUMN sudah sehat dan sudah mencetak keuntungan lebih besar dari sebelumnya," imbuh Iqbal. Namun demikian, ia menegaskan bahwa BUMD tidak boleh hanya berorientasi pada keuntungan semata.
Dua Holding Baru: Sektor Finansial dan Non-Finansial
Pada tahun kedua, prioritas Iqbal adalah mengonsolidasikan seluruh BUMD agar selaras dengan strategi pembangunan jangka menengah dan panjang. Dua skema holding tengah disiapkan. Pertama, konsolidasi BUMD sektor finansial di bawah Bank NTBS sebagai induk perusahaan. Melalui penggabungan ini, Iqbal berharap tidak ada benturan kepentingan bisnis antarperusahaan dan terjadi efisiensi biaya bersama, termasuk investasi infrastruktur teknologi informasi yang bisa digunakan secara kolektif.
"Contoh, pembentukan direktorat IT di Bank NTBS dan investasi infrastruktur IT yang nantinya dapat digunakan bersamaan untuk mengawal transformasi digital di seluruh BUMD sektor finansial," ujar mantan Duta Besar RI untuk Turki itu.
Kedua, Pemprov NTB membentuk holding non-finansial bernama PT NTB Kapital Bangkit dengan trademark NTB Kapital. Perusahaan ini akan mengelola seluruh aset strategis Pemprov dan melakukan kapitalisasi atas aset tersebut. Ia memiliki dua lini bisnis utama: asset management dan perusahaan investasi.
NTB Kapital: Jaminan bagi Investor
Iqbal menjelaskan, NTB Kapital dibentuk melalui Peraturan Daerah (Perda) dan dirancang hanya memegang saham minoritas, termasuk golden share. Sementara saham mayoritas akan dipegang oleh investor yang memiliki rekam jejak bisnis baik dan kecukupan modal.
"Perusahaan ini juga akan membentuk usaha-usaha joint venture dengan investor berkualitas di bidang-bidang yang menjadi prioritas Pemprov antara lain lingkungan, pertambangan, energi terbarukan, kawasan industri, infrastruktur dan jasa digital, ketahanan pangan, transportasi, dan pariwisata," sambung Iqbal.
Salah satu tujuan strategis pembentukan holding ini adalah memberikan asuransi kepada investor yang akan menanamkan modalnya di NTB. Dengan skema ini, Pemprov ingin memastikan bahwa BUMD tidak hanya menjalankan fungsi komersial, tetapi juga menjadi katalisator pembangunan daerah.