LOMBOK BARAT — Tiga dusun di Desa Sekotong Tengah, Kecamatan Sekotong, Kabupaten Lombok Barat, mengalami krisis air bersih akibat kekeringan. Kepala Desa Sekotong Tengah, M. Burham, menyebut ketiga wilayah itu adalah Dusun Tanjung Batu dengan 364 jiwa, Dusun Lendang Re 267 jiwa, dan Dusun Aik Tangi 507 jiwa.
Total warga terdampak mencapai 1.138 jiwa. Krisis air dilaporkan berlangsung sejak Agustus lalu dan belum sepenuhnya tertangani hingga kini.
Bantuan Pemkab Lobar Dinilai Lamban karena Kekurangan Armada
Pemdes Sekotong Tengah melaporkan kondisi tersebut ke Pemerintah Kabupaten Lombok Barat. Namun, menurut Burham, penyaluran atau dropping air dari pemkab berjalan lambat dengan alasan kekurangan armada.
“Tiga dusun ini krisis air dampak karena kekeringan, sehingga kami prioritaskan kami untuk penanganan air bersih,” kata Burham.
Daripada menunggu pasokan yang tak kunjung lancar, pihak desa memilih bergerak sendiri. Burham dibantu anggota DPRD NTB, Lalu Irwansyah Triadi, dan Ketua DPRD Lobar, Lalu Ivan Indaryadi, serta warga setempat.
Tandon Air dan Pipa Disiapkan di Tiap Dusun
Pemdes memasang tandon air di tiap dusun sebagai titik penampungan. Warga bisa mengambil air langsung dari tandon yang telah disiapkan. Kebutuhan tandon masih belum sepenuhnya terpenuhi karena beberapa area terdampak belum memiliki penampungan.
Satu unit tandon diperoleh dari sumbangan Ketua DPRD Lobar. Selain tandon, bantuan pipa dialirkan untuk mendistribusikan air dari tandon ke rumah warga di Dusun Tanjung Batu.
Untuk sumber air, pihak desa menyedot dari sumur milik seorang pengusaha di Dusun Telaga Lebur. Air itu kemudian diisi ke tandon sebelum disalurkan ke wilayah lain yang belum punya penampungan.
“Kami minta air di sumur warga, kita biayai dari Pemdes,” ujar Burham.
Distribusi Dua Kali Sehari Sesuai Permintaan Warga
Pendistribusian air mengikuti permintaan warga. Dalam sehari, pengiriman bisa dilakukan dua kali, termasuk pada Minggu lalu yang berlangsung siang dan malam.
Setiap pengiriman menggunakan dua tandon besar dengan kapasitas masing-masing 2.500 liter. Burham menilai penanganan mandiri ini lebih cepat dan tidak berbelit, sehingga warga bisa segera terlayani saat membutuhkan.
Meski demikian, kebutuhan tandon tambahan masih jadi persoalan yang belum tuntas di beberapa titik terdampak.