Pencarian

Bros Tembolak Kantongi HAKI, Dekranasda Mataram Gratiskan Duplikasi Desain untuk Perajin

Jumat, 11 September 2026 • 05:31:31 WIB
Bros Tembolak Kantongi HAKI, Dekranasda Mataram Gratiskan Duplikasi Desain untuk Perajin
Bros Tembolak karya Ketua Dekranasda Kota Mataram Hj. Kinnastri Mohan Roliskana resmi memegang HAKI dari Kementerian Hukum RI.

MATARAM — Bros Tembolak menjadi produk kriya terbaru Kota Mataram yang menyandang status ikon. Karya ciptaan Ketua Dekranasda Kota Mataram, Hj. Kinnastri Mohan Roliskana, itu telah terdaftar di Kementerian Hukum Republik Indonesia dan memegang HAKI. Perajin maupun pelaku kreatif diberi keleluasaan menggandakan desain tanpa dikenakan biaya.

Kikin, sapaan akrabnya, menuturkan ide bros tembolak muncul karena ia menilai ibu kota Provinsi NTB perlu menghadirkan kreativitas dan inovasi baru setiap tahun. Selama ini produk kriya Kota Mataram cenderung monoton pada motif bunga.

"Warga kita sangat kreatif, tetapi kita mau monoton hanya bros motif bunga dan lain sebagainya," ujarnya saat Talkshow di Radio Global FM Lombok, Kamis (10/9).

Berawal dari Coretan di Kertas dan Diskusi dengan Perajin Pagutan

Kikin mengaku mencoret-coret di selembar kertas untuk merancang bentuk bros tembolak. Ia lalu berdiskusi dengan perajin asal Kelurahan Pagutan, Kecamatan Mataram, untuk mewujudkan desain tersebut.

Proses pengerjaannya tergolong rumit. Bros tembolak berukuran sangat kecil dan menuntut detail tinggi dibanding produk kriya lain yang lebih dulu jadi ikon, seperti Gerbang Sangkareang.

"Kesulitannya adalah sangat detail dibandingkan dengan Gerbang Sangkareang," jelasnya.

Gerbang Sangkareang Jadi Preseden Produk Kriya yang Laku

Sebelum bros tembolak, Kota Mataram sudah punya sejumlah ikon kriya. Salah satunya Gerbang Sangkareang berbentuk lumbung yang justru banyak peminat dan menjadi produk andalan.

Kerajinan mutiara juga menjadi produk unggulan daerah ini. Kerajinan itu telah dikenal luas hingga ke mancanegara.

Pendaftaran HAKI untuk Dorong Perajin Dapat Pasif Income

Keberhasilan menciptakan produk kriya ikonik mendorong Kikin mendaftarkan karyanya ke Kementerian Hukum Republik Indonesia. Tujuannya memotivasi pelaku kreatif dan pelaku seni agar mendaftarkan ide mereka.

Dengan HAKI, kata Kikin, karya akan dihargai masyarakat secara luas. Perajin juga berpeluang memperoleh keuntungan pasif atau pasif income, serta produk kriya memiliki nilai jual tinggi.

Khusus desain bros tembolak, ia membebaskan perajin menduplikasi tanpa pajak. Syaratnya, perajin meminta izin dan memodifikasi sesuai versi mereka masing-masing.

"Saya bebaskan perajin menduplikasikan atau tidak dikenakan pajak alias gratis. Tetapi perajin izin dengan memodifikasi sesuai versi mereka," ujarnya.

Kendala Sumber Daya Perajin dan Harga Bahan Baku

Kikin mengakui tantangan memproduksi bros tembolak bukan hanya soal kerumitan. Sumber daya manusia menjadi persoalan karena tidak semua perajin mampu menerjemahkan motif yang diinginkan.

Bahan baku yang semakin mahal turut mempersulit perajin menentukan nilai jual produk. "Belum lagi tingkat kerumitan serta bahan baku semakin mahal," ujarnya.

Galeri Dekranasda Jadi Etalase Produk Kriya Mataram

Dekranasda Kota Mataram menyediakan ruang seluas-luasnya bagi pelaku kreatif untuk mempromosikan produk mereka. Galeri Dekranasda menjadi salah satu wadah menampilkan produk unggulan perajin Kota Mataram.

Harapannya, produk kriya Kota Mataram mampu bersaing dengan produk daerah lain. Produk ikonik juga dinilai punya daya tarik tersendiri bagi wisatawan yang ingin membawa pulang kenang-kenangan khas daerah.

Follow lombok24.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: globalfmlombok.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks