The Primals, band in-house Final Fantasy 14 yang digawangi komposer Masayoshi Soken, akhirnya menjejakkan kaki di panggung internasional yang lebih luas. Mereka menjadi salah satu pengisi acara di Dogtooth Stage, Download Festival, yang digelar di Donington Park, Inggris, pekan lalu. Ini adalah penampilan perdana mereka di luar tur Asia dan acara Fan Festival yang biasa digelar Square Enix.
Antusiasme Tak Terduga di Tengah Raksasa Mainstream
Penampilan The Primals dijadwalkan pada pukul 17.50, bersaing langsung dengan headliner besar seperti Electric Callboy di panggung utama. Awalnya, keraguan muncul: akankah penonton festival yang haus akan riff gitar berat tertarik pada band yang lahir dari dunia game?
Namun, 20 menit sebelum panggung dimulai, kerumunan mulai memadat. Bukan hanya puluhan pemakai kaus Final Fantasy 14 yang terlihat, tetapi juga penonton biasa yang penasaran. "Saya melihat banyak orang memakai kaus Final Fantasy 14 mengobrol tentang game itu, dan kekhawatiran saya mulai mereda," tulis jurnalis PC Gamer yang hadir di lokasi.
Setlist Padat, Energi Menggelegar: Dari 'Shadowbringers' hingga 'Under the Weight'
The Primals membuka penampilan mereka dengan lagu Shadowbringers dan langsung melesat ke Fiend, tema Sephirot dari ekspansi Heavensward. Michael-Christopher Koji Fox, vokalis sekaligus karyawan Square Enix, langsung mengambil alih panggung. "Kalian mungkin pernah dengar MMORPG yang diakui secara kritis bernama Final Fantasy 14? Soundtrack-nya… BENERAN KERAS!" teriak Fox disambut sorak sorai penonton.
Setlist yang hanya berdurasi 30 menit terasa padat namun sempurna. Mereka membawakan lagu-lagu ikonik seperti Not Afraid dan tiga lagu penutup yang dinyanyikan oleh kolaborator lama, Jason Charles Miller: Absolute Tyranny, eScape, dan Under the Weight. "Seandainya saya tidak tahu asal-usul mereka, saya akan mengira mereka band rock dad asal Jepang yang cukup bagus," tambah jurnalis tersebut.
Fenomena Baru: Musik Game Tak Lagi Jadi 'Niche'
Keberhasilan The Primals di Download Festival menandai momen langka di mana budaya gaming berhasil menembus tembok festival musik arus utama. Biasanya, peristiwa sebaliknya yang lebih sering terjadi—seperti atlet Olimpiade muncul di game atau musisi pop seperti Beyoncé bermain Nintendog.
Penampilan ini menjadi bukti bahwa label "musik video game" perlahan bisa dilepas. "The Primals bermain di Download terasa benar-benar pas. Sebuah band rock, melakukan hal-hal rock di festival rock," tulis sang jurnalis. Ia berharap ke depannya akan lebih banyak kolaborasi serupa, seperti Crush 40 (Sonic) di Coachella atau Lyn (Persona 5) di Glastonbury.
Bagi penggemar Final Fantasy 14 di Indonesia, momen ini menjadi angin segar. Meski belum ada kabar mengenai tur Asia berikutnya, penampilan ini setidaknya membuktikan bahwa musik dari game favorit mereka layak bersaing di panggung dunia.