NUSA TENGGARA BARAT — Kepala Unit Pengelola Kawasan Kota Tua Jakarta Denny Aputra mengungkapkan, trem listrik akan menelusuri jalur historis yang dulu pernah melayani warga Batavia. Rute yang direncanakan melintasi titik-titik strategis, termasuk kawasan Sunda Kelapa, meskipun detail lintasan masih menunggu keputusan final dari pemerintah.
"Trem yang lamanya jalurnya saja, dan sudah menggunakan tenaga listrik nanti ke depan," kata Denny kepada wartawan di Jakarta, Minggu (14/6).
Konsep Kawasan Rendah Emosi dan Integrasi Transportasi Massal
Selain menghidupkan trem, Pemprov DKI menerapkan LEZ untuk menekan polusi dan meningkatkan kenyamanan pejalan kaki. Denny menjelaskan, kendaraan pribadi akan dibatasi secara bertahap setelah seluruh infrastruktur penunjang selesai dibangun.
"Salah satunya kita akan membangun juga LEZ atau Low Emission Zone. Jadi kita akan membatasi kendaraan nanti ketika sudah jadi semuanya," ucapnya.
Kawasan Kota Tua nantinya juga akan terintegrasi dengan moda transportasi massal lain, seperti MRT, Transjakarta, dan Stasiun Jakarta Kota. Saat ini, Pemprov masih memprioritaskan penyelesaian proyek MRT rute Lebak Bulus-Kota yang ditargetkan beroperasi pada awal 2029.
Gubernor Dorong Kota Tua sebagai Destinasi Global
Revitalisasi ini disebut sebagai upaya memperkuat identitas sejarah sekaligus mendongkrak status Jakarta sebagai kota global. Denny menyebut Gubernur DKI Jakarta melihat trem sebagai moda transportasi awal yang membangun narasi sejarah kawasan.
"Pak Gubernur melihat bahwa itu menjadi moda transportasi awal, membangun sejarahnya kembali, dan memastikan revitalisasi Kota Tua di 2029 ini menjadi destinasi Jakarta, kota global," kata Denny.
Program ini menggabungkan tiga elemen utama: sejarah, pariwisata, dan transportasi ramah lingkungan. Pemprov DKI menargetkan kawasan Kota Tua mampu bersaing dengan destinasi wisata bersejarah kelas dunia dalam lima tahun ke depan.