NUSA TENGGARA BARAT — Fenomena bediding tengah melanda sejumlah daerah di Indonesia. BMKG mencatat suhu udara minimum di Manggarai, Nusa Tenggara Timur, mencapai 9,4 derajat Celsius, sementara di Tambi, Wonosobo, Jawa Tengah, suhu tercatat 16,9 derajat Celsius. Angka ini lebih rendah dari rata-rata suhu normal di wilayah tropis.
Monsun Australia dan Langit Cerah Jadi Pemicu Utama
BMKG menjelaskan, penyebab utama suhu dingin ini adalah menguatnya Monsun Australia. Angin ini membawa massa udara kering dan dingin menuju wilayah Indonesia, khususnya bagian selatan. Akibatnya, pembentukan awan berkurang drastis dibandingkan musim hujan.
"Langit pada malam hari cenderung cerah tanpa banyak tutupan awan," tulis BMKG dalam keterangannya. Dalam kondisi langit cerah, panas yang tersimpan di permukaan bumi setelah menerima sinar matahari sepanjang siang lebih mudah lepas ke atmosfer. Tanpa lapisan awan yang berfungsi sebagai selimut, suhu di permukaan bumi turun drastis dan terasa dingin.
Kontras Suhu Siang dan Malam: Panas Ekstrem hingga 35 Derajat
Uniknya, fenomena bediding menciptakan kontras suhu yang tajam dalam satu hari. Saat malam dan pagi dingin, siang hari justru bisa sangat terik. Minimnya tutupan awan juga menjadi biang keroknya. Sinar matahari mencapai permukaan bumi tanpa halangan, sehingga pemanasan berlangsung maksimal.
BMKG mencatat suhu maksimum lebih dari 35 derajat Celsius dalam beberapa hari terakhir di Aceh, Sumatera Utara, Riau, Banten, DKI Jakarta, Kalimantan Tengah, Kalimantan Utara, dan Kalimantan Timur. Artinya, masyarakat harus bersiap menghadapi dua kondisi ekstrem dalam sehari: dingin menusuk di pagi dan malam, serta panas menyengat di siang hari.
Dampak Kesehatan dan Imbauan Antisipasi
Meski bukan fenomena cuaca ekstrem berbahaya, bediding tetap perlu diwaspadai. Suhu dingin dapat memicu gangguan kesehatan, terutama pada anak-anak, lansia, dan kelompok dengan daya tahan tubuh rendah. Keluhan seperti batuk, pilek, asma, hingga infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) rentan muncul.
BMKG mengimbau masyarakat untuk menjaga kondisi tubuh dengan mengenakan pakaian hangat saat malam dan pagi hari. Asupan cairan dan makanan bergizi juga perlu dijaga agar tidak dehidrasi. "Kurangi aktivitas di luar ruangan pada malam hari jika suhu terlalu dingin," demikian imbauan BMKG. Ventilasi rumah juga disarankan tetap baik untuk menjaga sirkulasi udara.
BMKG mengingatkan, musim kemarau tidak selalu berarti bebas hujan. Sejumlah daerah masih berpotensi mengalami hujan dengan intensitas sedang hingga lebat akibat dinamika atmosfer seperti gelombang atmosfer dan sirkulasi siklonik. Masyarakat diminta tetap memantau informasi cuaca terbaru dan peringatan dini yang dikeluarkan BMKG.