NUSA TENGGARA BARAT — Rambu larangan motor melintas di JLNT Antasari dan Casablanca sudah terpampang jelas. Tapi kenyataan di lapangan, masih banyak pemotor yang menerobos. Ini bukan soal aturan semata—ada pertimbangan keselamatan yang serius di baliknya. Dikutip dari laman Instagram NTMC Korlantas Polri, setidaknya ada empat faktor utama yang mendasari larangan ini.
Angin Samping di Ketinggian: Bikin Motor Oleng Tanpa Peringatan
Di atas JLNT, kecepatan angin dari samping jauh lebih kencang dibanding jalan di bawah. Buat pemotor, ini bukan sekadar tidak nyaman—ini bisa langsung membuat keseimbangan goyah. Senior Instructor Safety Defensive Consultant Indonesia (SDCI), Sony Susmana, menjelaskan bahwa flyover seperti Casablanca yang panjangnya hampir satu kilometer lebih punya crosswind besar.
"Nah itu crosswind-nya besar, kemudian membuat motor gampang oleng," kata Sony beberapa waktu lalu. Risiko ini makin parah kalau motor yang melintas adalah skutik dengan bobot ringan dan profil ban kecil.
Desain Jalan Tanpa Bahu: Nggak Ada Ruang Aman untuk Evakuasi
JLNT didesain pas untuk dua lajur kendaraan roda empat. Artinya, tidak ada bahu jalan sama sekali. Kalau motor mogok atau terjadi senggolan, pengendara nggak punya tempat untuk menyelamatkan diri. Konsekuensinya? Tabrakan beruntun jadi sangat mungkin terjadi karena kendaraan lain nggak punya ruang untuk menghindar.
Ini berbeda dengan jalan tol yang biasanya punya bahu jalan selebar 1-2 meter. Di JLNT, ruang yang ada hanya cukup untuk badan jalan dan marka—nggak ada zona aman untuk berhenti darurat.
Turunan Curam + Angin Kencang: Rem Mendadak Bisa Fatal
Kontur JLNT punya elevasi tinggi. Buat motor matic, kombinasi turunan curam dan angin samping adalah mimpi buruk. Saat pengendara melakukan rem mendadak di turunan, risiko kehilangan kendali dan terjatuh meningkat drastis. Sistem pengereman motor matic yang cenderung lebih sensitif di bagian belakang bisa membuat ban terkunci dan oleng.
Belum lagi faktor silau. Sony menambahkan bahwa di atas JLNT tidak ada tempat teduh sama sekali. "Kemudian sejauh itu (jarak tempuh) tidak ada penghijauan sehingga tingkat kesilauan buat pengendara itu tinggi," jelasnya. Silau dari sinar matahari langsung bisa bikin pengendara buta sesaat—sangat berbahaya di kecepatan tinggi.
Proses Evakuasi Lambat: Ambulans Susah Sampai ke Lokasi
Kalau sampai terjadi kecelakaan, masalah belum selesai. Jalur JLNT yang sempit dan tinggi membuat proses evakuasi jadi rumit. Ambulans butuh waktu lebih lama untuk mencapai lokasi karena akses terbatas. Bahkan untuk kendaraan derek atau petugas, manuver di jalan layang yang sempit jadi tantangan sendiri. Ini berarti penanganan medis bisa tertunda—yang dalam kasus kecelakaan serius, soal menit bisa jadi soal hidup-mati.
Yang Perlu Dipahami Pemotor: Bukan Soal Aturan, Tapi Risiko Nyata
Larangan motor melintas di JLNT bukan tanpa dasar. Empat alasan di atas—angin samping, tanpa bahu jalan, kontur curam dengan risiko rem, dan evakuasi lambat—adalah faktor teknis yang sudah dipertimbangkan oleh pihak berwenang. Bagi pemotor yang tetap nekat, risikonya bukan cuma tilang, tapi kecelakaan yang bisa membahayakan diri sendiri dan orang lain. Pilih jalur alternatif di bawah, meski lebih padat, jelas lebih aman.