MATARAM — Pernyataan itu disampaikan Bambang usai mengikuti diskusi kelompok terpumpun bertajuk "Exploring New Futures for Indonesian Objects" di Museum NTB, Mataram, Selasa. Ia menegaskan bahwa menghujat atau menyalahkan masyarakat yang menjual koleksi naskahnya kepada wisatawan atau kolektor bukanlah solusi yang tepat.
Mengapa Masyarakat Lebih Memilih Menjual Naskah Kuno?
"Kondisi yang menciptakan mereka memahami naskah kuno sebagai komoditi, maka yang dicari adalah keuntungan ekonomi," ujar Bambang. Ia menambahkan, apabila masyarakat sejak awal menempatkan naskah kuno sebagai benda budaya bernilai sejarah, tentu mereka tidak akan rela menjual artefak tulisan tangan itu ke pihak luar.
Persoalan ini diperkuat temuan di lapangan. Direktur Program Yayasan Pasirputih—lembaga riset seni dan budaya berbasis di Lombok Utara—Muhammad Sibawaihi mengungkapkan bahwa alasan utama warga menjual naskah kuno adalah untuk memenuhi kebutuhan dapur sehari-hari. Praktik ini telah berlangsung lama dengan harga bervariasi, mulai dari ratusan ribu hingga puluhan juta rupiah per naskah.
Bisnis Pariwisata dan Nasib Manuskrip Lombok
Sibawaihi menyebutkan bahwa jual beli manuskrip kini bahkan telah menjadi bagian dari bisnis pariwisata di Lombok. "Saya menemui beberapa orang yang di masa lalu, bahkan sampai sekarang, mereka punya kelompok yang menjual naskah-naskah kuno ke wisatawan," katanya. Kondisi ini menunjukkan bahwa tekanan ekonomi dan peluang pasar telah mengubah nilai sakral naskah menjadi komoditas dagang.
Pelestarian Tak Cukup Hanya Menyelamatkan Benda
Menurut Bambang, upaya pelestarian warisan budaya tidak boleh hanya berfokus pada penyelamatan fisik benda. Yang tak kalah penting adalah menjaga pengetahuan dan keterampilan yang melahirkan warisan tersebut, seperti kemampuan menulis lontar, membuat keris, hingga perlengkapan upacara adat. "Kemampuan itu perlu terus diwariskan agar tidak punah," tegasnya.
Yayasan Pasirputih mencatat bahwa tradisi literasi lontar masih bertahan di Lombok Utara. Sejumlah orang tua dan anak muda di sana masih mampu membaca serta menulis aksara bahasa kuno pada lontar. Namun, keterampilan ini memerlukan upaya pelestarian serius karena setiap periode zaman memiliki karakter huruf dan teknik penulisan yang berbeda.
Negara Diminta Hadir Memutus Rantai Jual Beli
Bambang berharap negara hadir memfasilitasi upaya pelestarian sejarah dan kebudayaan dengan memberikan ruang bagi masyarakat untuk mempertahankan tradisi. Tujuannya agar mereka tidak lagi bergantung pada penjualan benda-benda kuno untuk bertahan hidup. "Kita kadang terlalu menghujat mereka, tapi kalau kondisi membuat mereka melihat itu sebagai komoditas, kita mau bilang apa," ucapnya.
Dengan pendekatan yang lebih struktural, diharapkan masyarakat Lombok tidak lagi memandang naskah kuno sebagai sekadar barang dagangan, melainkan sebagai warisan dokumenter yang perlu dijaga bersama untuk generasi mendatang.