MATARAM — Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) resmi mengadopsi wellness tourism sebagai strategi utama membangun pariwisata berkualitas. Langkah ini diambil di tengah tren kunjungan wisatawan nusantara yang mencapai 6,16 juta perjalanan pada Januari–Mei 2026, namun dengan rata-rata lama menginap yang masih rendah, yakni 1,86 hari.
Juru Bicara Pemprov NTB, Dr. H. Ahsanul Khalik, menyatakan bahwa arah baru ini merupakan respons terhadap perubahan perilaku wisatawan global. Laporan Global Wellness Institute menunjukkan industri ekonomi kebugaran dunia tumbuh hingga US$ 6,8 triliun pada 2024 dan diproyeksikan mencapai US$ 9,8 triliun pada 2029.
"Masyarakat dunia tidak lagi sekadar mencari destinasi yang indah, tetapi mencari perjalanan yang mampu meningkatkan kesehatan, ketenangan, keseimbangan hidup, dan kualitas diri," ujarnya dalam keterangan yang diterima di Mataram, baru-baru ini.
Modal Alam dan Budaya yang Sudah Ada
Pemprov NTB menilai Lombok dan Sumbawa tidak memulai dari titik nol. Provinsi ini memiliki bentang alam seperti Gunung Rinjani, Geopark Rinjani, Gunung Tambora, Pulau Moyo, Teluk Saleh, hingga kawasan Mandalika yang sudah dikenal dunia.
Kekayaan itu diperkuat budaya masyarakat Sasak, Samawa, Dompu, dan Mbojo yang menjaga harmoni dengan alam serta semangat gotong royong. Dari sisi pangan, NTB memiliki madu Sumbawa, kopi lokal, kelor, rempah-rempah, hingga hasil pertanian organik dan perikanan berkualitas.
Dari Sport Tourism ke Wellness Tourism
Strategi ini disebut sebagai kelanjutan dari keberhasilan NTB mengembangkan sport tourism. Komunitas lari, bersepeda, mendaki gunung, yoga, dan selancar tumbuh pesat di hampir seluruh kabupaten dan kota. Hampir setiap akhir pekan, warga mengikuti kegiatan fun run, road race, maupun trail running.
Agenda internasional juga memperkuat tren ini. Rinjani 100 Ultra 2026 misalnya, menghadirkan 2.275 pelari dari 38 negara. Sementara Pocari Sweat Run Lombok 2026 di Mandalika diikuti sekitar 9.200 peserta.
Pariwisata Berkualitas Bukan Soal Jumlah Pengunjung
Bagi Pemprov NTB, keberhasilan pariwisata tidak cukup diukur dari jumlah kunjungan atau tingkat hunian hotel. Tantangan berikutnya adalah membuat wisatawan tinggal lebih lama, menikmati lebih banyak pengalaman, dan membelanjakan lebih banyak produk lokal.
"Pariwisata berkualitas bukanlah tentang berapa banyak orang yang datang, tetapi berapa besar manfaat yang tinggal," kata Ahsanul, mengutip filosofi yang mendasari kebijakan di bawah kepemimpinan Gubernur Lalu Muhamad Iqbal dan Wakil Gubernur Indah Dhamayanti Putri.
Pengembangan wellness tourism ditempatkan sebagai salah satu strategi mewujudkan Triple Agenda Pemprov NTB, khususnya pariwisata berkelanjutan. Targetnya, sektor ini mampu menjadi penggerak kesejahteraan masyarakat, pelestarian lingkungan, dan penguatan budaya lokal.