Pencarian

Pekerja Anak Stagnan di 1,05 Juta Jiwa, Indikasi Kegagalan Intervensi Pemerintah yang Parsial

Minggu, 12 Juli 2026 • 12:01:02 WIB
Pekerja Anak Stagnan di 1,05 Juta Jiwa, Indikasi Kegagalan Intervensi Pemerintah yang Parsial
Pekerja anak di Indonesia tetap stagnan pada 1,05 juta jiwa pada 2025, meski ekonomi tumbuh positif.

NUSA TENGGARA BARAT — Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pada 2025 terdapat 1,05 juta pekerja anak berusia 5-17 tahun, setara 1,80% dari total populasi anak nasional. Angka ini hanya berkurang 20.000 jiwa dibandingkan posisi satu dekade lalu. Ironisnya, stagnasi terjadi di tengah pertumbuhan ekonomi yang positif dan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) yang terus meningkat.

Fenomena ini menunjukkan kesenjangan antara capaian makro dan realitas mikro rumah tangga. Teori ekonomi rumah tangga menjelaskan bahwa mempekerjakan anak adalah strategi rasional keluarga miskin ketika pendapatan orang dewasa tidak mencukupi kebutuhan dasar. Sementara itu, dominasi sektor informal di Indonesia—dengan pengawasan dan regulasi longgar—membuka celah lebar bagi eksploitasi anak.

Kemiskinan dan Disfungsi Keluarga Jadi Pemicu Utama

Penelitian Lubis (2018) menemukan bahwa kemiskinan keluarga menjadi alasan paling krusial anak bekerja. Keluarga miskin dengan pendidikan dan keterampilan rendah sulit mendapat pekerjaan layak, sehingga anak terpaksa turut menambah pendapatan. UNICEF (2017) menambahkan, disfungsi keluarga seperti perceraian, kekerasan dalam rumah tangga, dan kematian orang tua secara signifikan meningkatkan kerentanan anak untuk masuk ke dunia kerja.

ILO (2021) menyebut struktur keluarga yang rapuh dan lemahnya ikatan emosional dengan orang dewasa menjadi faktor risiko utama. Dalam banyak kasus, orang tua dan keluarga besar justru menjadi aktor yang mempekerjakan anak. Pengusaha pun memanfaatkan situasi ini karena anak cenderung mudah disuruh dan tidak melawan ketika dieksploitasi.

MBG Tak Cukup, Butuh Intervensi Tiga Pilar

Pertanyaan krusial saat ini: apakah program Makan Bergizi Gratis (MBG) mampu mengatasi pekerja anak? Studi Food-for-Education (FFE) di Bangladesh menunjukkan bahwa subsidi pendidikan serupa memang meningkatkan kehadiran di sekolah, namun gagal mengurangi jumlah pekerja anak secara signifikan.

Penyebabnya, kata peneliti, adalah kebutuhan mendesak keluarga miskin akan pendapatan langsung (immediate income). Jam sekolah yang relatif singkat juga membuka celah bagi anak untuk bekerja paruh waktu setelah belajar. MBG pada dasarnya hanya berfungsi sebagai transfer bantuan yang meringankan pengeluaran rumah tangga, bukan solusi struktural.

Untuk menghapus fenomena "pekerja anak sebagai kekerasan yang dipelihara", intervensi harus bersifat multisektoral melalui tiga pilar: nutrisi, finansial, dan edukasi. Pilar nutrisi seperti MBG perlu diarahkan secara spesifik pada anak-anak paling rentan, bukan bersifat universal. Anggaran yang dihemat bisa dialokasikan untuk insentif finansial langsung bagi keluarga miskin.

Pilar edukasi bertujuan mengubah paradigma keluarga tentang hak anak dan bahaya eksploitasi secara bottom-up. Tanpa perubahan cara pandang ini, kebijakan apa pun hanya akan menjadi tempelan yang tidak menyentuh akar masalah.

Bagikan
Sumber: katadata.co.id

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks