MATARAM — Ardhika Rizky Ramadhan dari Fakultas Teknik dan Fathurahman Yazid Tabrani dari Fakultas Teknologi Pangan dan Agroindustri (Fatepa) Unram sukses mengungguli peserta dari berbagai negara. Selain Platinum Award, keduanya juga meraih Gold Medal pada sesi teknis Land & Water Management. Kompetisi bergengsi di bidang teknik pertanian itu berakhir pada 27 Juli 2026.
Inovasi yang diusung adalah sistem irigasi pintar berbasis Internet of Things (IoT) yang menggunakan teknologi komunikasi LoRa (Long Range). Teknologi ini memungkinkan alat tetap berfungsi meskipun tidak ada koneksi internet seluler yang stabil.
Berawal dari Pengamatan di Lahan Lombok Barat
Menurut Ardhika, ide alat ini lahir saat mereka menjalani program pengabdian masyarakat di Dusun Bentenu, Desa Banyu Urip, Kecamatan Gerung, Lombok Barat. Di sana, mereka melihat langsung masalah pengairan yang kerap menghambat produktivitas petani.
“Kami membuat alat irigasi otomatis berbasis Internet of Things (IoT) menggunakan sensor suhu dan kelembaban yang dilengkapi komunikasi LoRa. Hal ini bertujuan agar sistem tidak bergantung pada kuota internet,” jelas Ardhika kepada NTBSatu.
Meskipun sinyal seluler di Banyu Urip tergolong cukup, sambungan internet kerap terputus secara tiba-tiba. Hal itu sangat mengganggu pemantauan tanaman secara real-time. Penggunaan LoRa menjadi solusi karena jangkauan transmisi datanya mencapai 5 hingga 10 kilometer.
Mendaftar Mendadak, Berangkat ke Italia dengan Biaya Penuh
Proyek riset ini sempat terdaftar secara mendadak pada September 2025, sehari sebelum penutupan pendaftaran abstrak. Setelah lolos penjurian ketat, pengumuman resmi keluar pada akhir Maret 2026. Penyelenggara kemudian mengundang kedua mahasiswa ke Italia dengan pembiayaan penuh.
“Pengumuman pemenang langsung rilis di situs resmi CIGR. Kami bersyukur bisa membawa pulang trofi Juara Umum ini ke Lombok,” ujar Ardhika.
Seluruh biaya tiket pesawat pulang-pergi, akomodasi hotel, transportasi lokal, dan uang harian ditanggung oleh panitia CIGR. Unram juga memberikan dukungan finansial tambahan untuk pengurusan visa, biaya transportasi ke Jakarta, serta uang saku sebagai bentuk apresiasi.
Gelombang Panas 41 Derajat Celsius Menanti di Turin
Selama mengikuti rangkaian kongres di Turin sejak akhir Juni, kedua mahasiswa harus berhadapan dengan cuaca ekstrem. Suhu lingkungan mencapai 37 hingga 41 derajat Celsius.
“Kondisinya seru sekali, tetapi kami cukup sibuk dengan waktu terbatas di Eropa dan harus terkena efek heatwave. Saya pribadi bahkan sampai mengalami mimisan setiap jam 10 malam,” kata Ardhika.
Meski dihadapkan pada tantangan fisik, prestasi ini menjadi bukti bahwa riset mahasiswa Indonesia mampu bersaing di level internasional. Inovasi irigasi pintar ini diharapkan dapat diimplementasikan secara lebih luas untuk membantu petani di daerah terpencil. (*)