NUSA TENGGARA BARAT — Suasana meriah menyelimuti Front Street, Toronto, sepanjang pekan lalu. Ribuan suporter dengan jersey beragam negara — dari Brasil, Skotlandia, hingga Kroasia — memadati kawasan stadion dan fan fest. Seorang penggemar Kroasia bahkan sempat menegur pedagang yang hanya menjual perlengkapan bisbol Toronto Blue Jays, bukan atribut tim negaranya. "Kroasia! Akan menang hari ini!" serunya.
Namun di seberang jalan, enam atlet perempuan dalam seragam Northern Super League terpampang di gedung Canadian Broadcasting Corporation. "Liga sepak bola profesional wanita pertama Kanada," begitu bunyi tulisan di poster raksasa itu. Kontras ini menegaskan taruhannya: Piala Dunia 2026 harus menjadi katalis yang mengubah wajah sepak bola Kanada.
Modal dari Medali Olimpiade hingga Kembalinya Tim Pria ke Panggung Dunia
Kanada bukanlah pemain baru di level internasional. Tim wanita telah memenangkan tiga medali Olimpiade beruntun sejak 2012 dan meraih emas di Tokyo 2020. Sementara tim pria, setelah absen sejak 1986, akhirnya kembali ke Piala Dunia pada 2022 dan kini telah mencatat kemenangan perdana serta lolos ke babak 16 besar — termasuk mengalahkan Afrika Selatan pada Minggu lalu.
"Sudah tidak ada rahasia lagi," ujar Tosaint Ricketts, mantan penyerang timnas yang kini bekerja untuk Vancouver Whitecaps. "Kami melalui banyak kontroversi, kurangnya transparansi, dan perubahan struktur organisasi Kanada Soccer. Tapi semua itu sudah di belakang. Sekarang kami berada di jalur pertumbuhan yang stabil."
Celah antara Partisipasi Massal dan Elit Domestik yang Perlu Dijembatani
Sepak bola adalah olahraga dengan partisipasi terbanyak di Kanada — lebih dari satu juta pemain aktif. Namun, kesenjangan antara popularitas akar rumput dan level profesional masih menganga. Hanya ada delapan klub di Canadian Premier League (CPL) yang kini memasuki musim kedelapan, sementara tiga klub lainnya bermain di MLS Amerika Serikat.
"Langkah berikutnya adalah membuat korporasi berinvestasi, memperbaiki infrastruktur, agar sejuta peserta ini punya fasilitas dan sumber daya untuk berkembang," kata Ricketts. "Apa yang dilakukan Piala Dunia adalah membuat semua kemajuan ini berkelanjutan."
Komisioner CPL: Komersialisasi dan Visibilitas Pasca-Turnamen Jadi Kunci
James Johnson, komisioner Canadian Premier League, menekankan bahwa peluang terbesar bukan hanya lima pekan penyelenggaraan. "Warisan yang ditinggalkan turnamen bisa bersifat transformatif bagi sepak bola di negara ini," katanya. Ia menargetkan peningkatan belanja pemasaran, jam tayang, dan infrastruktur klub untuk menghasilkan pemain yang lebih baik.
"Kami ingin membawa investasi, meningkatkan skala, dan memanfaatkan momentum Piala Dunia," lanjut Johnson. "Ini soal memposisikan olahraga ini di arus utama, memastikan setelah Piala Dunia berlalu, orang masih bisa melihat sepak bola di Kanada — di papan reklame dan televisi."
Kinerja Tim Pria Tentukan Seberapa Dalam Warisan Tertanam
Semua rencana itu sangat bergantung pada performa Les Rouges di turnamen. Kemenangan atas Afrika Selatan memastikan mereka bertahan dalam wacana publik setidaknya enam hari ke depan, saat berhadapan dengan pemenang laga Belanda vs Maroko.
"Semakin lama tim tuan rumah bertahan di turnamen, semakin dalam koneksi penggemar baru dengan olahraga ini," ujar Johnson. Ricketts menambahkan, "Semua sejarah ini akan menciptakan warisan dan menginspirasi generasi berikutnya. Anak-anak akan membicarakan ini selama empat tahun ke depan."