NUSA TENGGARA BARAT — Anggota Dewan Ekonomi Nasional (DEN) itu mengaku pertemuannya dengan Kepala Negara hanya membahas persoalan ekonomi makro, bukan soal perombakan kabinet. "Enggak ada (ditawari menjadi menteri keuangan). Ini kita bahas soal ekonomi kok," kata Chatib singkat usai pertemuan.
Panggilan Istana dan Bantahan Berulang
Kehadiran Chatib di kompleks Istana sekitar pukul 15.30 WIB langsung memicu spekulasi pasar. Sejak pekan lalu, beredar kabar Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa akan diganti di tengah tekanan terhadap nilai tukar rupiah dan pelemahan fiskal.
Namun, bantahan datang bertubi-tubi. Pihak Istana dan Purbaya sebelumnya telah menepis isu tersebut. Kini giliran Chatib yang angkat bicara. Ia menegaskan tidak mengetahui rumor yang mengaitkan namanya dengan bursa calon menteri. "Saya enggak tahu," ujarnya saat dicegat wartawan.
Pertemuan Tidak Empat Mata, Ada Luhut
Chatib mengungkapkan pertemuannya dengan Presiden Prabowo tidak dilakukan secara pribadi. Ia datang bersama Ketua Dewan Ekonomi Nasional Luhut Binsar Pandjaitan. "Sama Pak Luhut, bareng," katanya, menepis anggapan ada pembicaraan khusus soal jabatan.
Ketika ditanya lebih lanjut mengenai agenda pemanggilan, Chatib enggan memberi detail. Ia hanya melempar jawaban singkat, "Tanya Pak Luhut. Tuh ada, rame-rame kok."
Tiga Opsi Sulit Menkeu: Naikkan, Potong, atau Pinjam
Di luar isu reshuffle, Chatib justru banyak menyoroti tantangan fiskal yang dihadapi pemerintah saat ini. Dalam forum Grab Business Forum 2026 di Jakarta, ia menyebut tugas Menteri Keuangan sejatinya sederhana, namun pilihannya terbatas di tengah tekanan global.
"Sebetulnya tugas dari Menteri Keuangan itu sangat gampang. Dia hanya punya opsi tiga hal. Naikkan, potong, pinjam. Itu hanya tiga itu," kata Chatib.
Menurutnya, ruang fiskal semakin sempit akibat perlambatan ekonomi global, tekanan rupiah, dan potensi kenaikan harga energi karena konflik Timur Tengah. Ia menilai menaikkan pajak bukan pilihan realistis karena bisa menekan daya beli dan aktivitas usaha. "Masa di dalam situasi ini tax revenue, tax-nya mesti dinaikkan? Nggak mungkin juga," ujarnya.
Sementara opsi menambah utang juga tidak ideal. Biaya pinjaman saat ini mahal seiring tingginya suku bunga global. "Siapa yang mau pinjam uang sekarang, cost-nya akan jadi sangat mahal," kata Chatib.
Rasionalisasi Belanja Jadi Jalan Tengah
Dari tiga opsi itu, Chatib menilai langkah paling memungkinkan adalah rasionalisasi belanja negara secara selektif. Langkah ini dinilai penting untuk menjaga kredibilitas fiskal tanpa harus membebani masyarakat atau memperbesar utang.
Ia mencontohkan, pemerintah harus berani memangkas pos-pos belanja yang tidak prioritas dan mengalihkannya ke sektor produktif. "Kalau Anda tidak bisa naikkan, maka Anda harus potong. Kalau Anda tidak bisa potong, Anda harus pinjam. As simple as that," pungkasnya.