SUMBARAWA BARAT — Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Sumbawa Barat meluncurkan pendekatan baru untuk mengatasi persoalan sampah dari hulu permukiman. Metode yang diperkenalkan kali ini mengandalkan ember bekas cat yang dimodifikasi sebagai wadah pengomposan sederhana di pekarangan rumah.
Kepala DLH Sumbawa Barat, Aku Nur Rahmadin, menilai masyarakat sebenarnya sudah paham cara mengelola sampah, termasuk potensinya menghasilkan uang. Namun, kesibukan bekerja membuat warga kerap kesulitan meluangkan waktu untuk memilah sampah rumah tangga.
“Jadi sebenarnya masyarakat kita itu cerdas dan sudah tahu cara mengelola sampah, termasuk tahu kalau sampah bisa menghasilkan uang,” ujarnya kepada NTBSatu, Selasa (9/6).
Cara Kerja Ember Kompos: Sisa Makanan Langsung Dimasukkan
Teknisnya cukup sederhana. Warga hanya perlu melubangi bagian bawah ember cat bekas, lalu menanamnya ke dalam tanah di halaman rumah. Setiap hari, sisa makanan atau limbah sayuran dapur langsung dimasukkan ke dalam ember tanpa perlu dipilah terlebih dahulu.
“Sampah sisa makanan tinggal dimasukkan ke sana lalu ditutup, lalu hasilnya bisa dipanen menjadi kompos yang bernilai ekonomi,” jelas Rahmadin.
Dalam waktu sekitar tiga minggu, sampah organik akan melebur melalui proses fermentasi alami menjadi pupuk kompos. Metode mikro ini diyakini mampu mengurangi volume sampah rumah tangga secara signifikan sebelum mencapai Tempat Pembuangan Akhir.
Fokus pada Pendampingan dan Pengaktifan Kembali TPS 3R
Selain memperkenalkan metode ember kompos, DLH Sumbawa Barat juga akan mengoptimalkan desa-desa yang sudah memiliki Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPS) 3R. “Desa yang sudah memiliki Tempat Pengolahan Sampah Terpadu 3R tinggal kita operasionalkan kembali agar beroperasi secara maksimal,” kata Rahmadin.
Bagi wilayah yang belum memiliki fasilitas tersebut, dinas akan mengarahkan penguatan program Bank Sampah. Pendampingan langsung menjadi fokus utama agar setiap desa mampu mengelola potensi sampah secara mandiri.
Armada Roda Tiga untuk Jangkau Jalan Sempit
Untuk mendukung kelancaran pengangkutan sisa sampah residu, DLH Sumbawa Barat menyiapkan 38 unit armada roda tiga. Keputusan ini mengikuti arahan bupati agar kendaraan pengangkut bisa masuk ke jalan-jalan sempit di permukiman warga.
“Bupati memberi arahan penggunaan roda tiga agar bisa masuk jalan sempit, dan unitnya sudah ada tinggal menunggu waktu,” pungkas Rahmadin.