MATARAM — Rupiah mengakhiri perdagangan Senin dengan penguatan tipis. Mata uang Garuda naik 2 poin atau 0,01 persen ke Rp 16.250 per dolar AS, setelah bergerak fluktuatif sepanjang sesi di kisaran level yang sama.
Penguatan ini sejalan dengan rilis data cadangan devisa yang tercatat naik. Posisi cadangan yang solid menjadi bantalan stabilitas nilai tukar di tengah ketidakpastian ekonomi global yang masih membayangi pasar keuangan negara berkembang.
Cadangan Devisa Naik, Sentimen Pelaku Pasar Membaik
Pelaku pasar merespons positif data cadangan devisa yang dirilis akhir pekan lalu. Peningkatan tersebut memperbaiki persepsi risiko terhadap ekonomi Indonesia dan menahan laju pelemahan rupiah lebih dalam.
Tekanan eksternal terhadap rupiah sejatinya masih ada, terutama dari kebijakan suku bunga acuan bank sentral AS. Namun, fundamental domestik yang terjaga membuat depresiasi tidak berlanjut dan berbalik menguat tipis pada penutupan.
Proyeksi Rupiah: Penguatan Masih Terbatas
Para analis menilai penguatan rupiah masih akan terbatas. Pasar menunggu data inflasi AS terbaru yang bisa menentukan arah kebijakan moneter global, termasuk dampaknya terhadap aliran modal asing ke pasar Indonesia.
Di sisi lain, permintaan dolar dari korporasi domestik untuk pembayaran impor dan dividen kerap meningkat menjelang akhir bulan. Kondisi ini berpotensi menahan laju penguatan rupiah dalam beberapa pekan ke depan.
Kendati demikian, fundamental ekonomi yang ditopang cadangan devisa memadai diharapkan menjaga stabilitas nilai tukar tetap terkendali. Pemerintah dan bank sentral dinilai memiliki ruang kebijakan yang cukup untuk mengantisipasi gejolak eksternal.