NUSA TENGGARA BARAT — Shangluo, China, menjadi saksi berakhirnya langkah tim voli pantai Indonesia di kancah Asia. Bintang Akbar dan Sofyan Rachman, yang tampil meyakinkan sepanjang turnamen, harus mengakui keunggulan pasangan Australia yang notabene lebih berpengalaman di pentas internasional.
Padahal, Bintang/Sofyan sempat memberikan harapan besar setelah merebut set pertama dengan skor ketat 21-19. Namun, perlawanan sengit di dua set berikutnya belum mampu menyelamatkan mereka dari kegagalan.
Emosi Pemain Menjadi Faktor Penentu
Pelatih Timnas Voli Putra Indonesia, Slamet Mulyanto, membuka suara terkait kekalahan anak asuhnya. Ia menyayangkan hilangnya fokus tim setelah terprovokasi oleh permainan lawan di set kedua.
"Set pertama anak-anak bermain bagus. Start kedua awalnya bagus, leading 8-6. Namun, lawan bikin ulah, mancing emosi, memperlambat permainan dan tiga kali protes ke wasit, hingga dapat kartu kuning. Hal itu membuat anak-anak terpengaruh," ujar Slamet dalam rilis resminya.
Ia menambahkan bahwa pengalaman lawan menjadi pembeda di momen-momen krusial. "Jam terbang bicara, dalam keadaan ketat begini, lawan bisa mempengaruhi tempo. Salah satu pemainnya sudah dua kali tampil di Olimpiade. Harusnya anak-anak kembali dengan cepat ke bentuk permainannya," jelasnya.
Catatan Manis Sebelum Tersingkir
Perjalanan Bintang/Sofyan di Shangluo patut diapresiasi. Sebelum pertandingan perempat final, mereka tampil dominan dengan menyapu bersih empat pertandingan penyisihan tanpa kehilangan satu set pun. Konsistensi ini menunjukkan potensi besar yang dimiliki duet Indonesia tersebut.
Sayangnya, tekanan di babak gugur dan strategi lawan yang lebih matang membuat langkah mereka terhenti. Slamet Mulyanto menilai evaluasi mendalam diperlukan, terutama dalam hal manajemen emosi dan antisipasi tekanan psikologis dari lawan.
Fokus Berikutnya: Asian Games
Kegagalan ini tidak membuat tim patah arang. Slamet menegaskan bahwa skuadnya akan segera beralih fokus untuk persiapan menuju Asian Games. Pengalaman berharga dari turnamen di China ini diharapkan menjadi modal berharga untuk tampil lebih baik di ajang yang lebih prestisius tersebut.
"Kini kami bersiap tampil di Asian Games," pungkas Slamet Mulyanto.
Kekalahan ini menjadi pelajaran berharga bahwa level persaingan voli pantai Asia sangat ketat. Meski belum berhasil menembus semifinal, penampilan Bintang/Sofyan di babak penyisihan membuktikan bahwa Indonesia memiliki talenta yang mampu bersaing di level tertinggi. Semoga pengalaman ini dapat diasah menjadi prestasi gemilang di kompetisi internasional berikutnya.