NUSA TENGGARA BARAT — Maluku Utara selama ini dikenal dengan sejarah Jalur Rempahnya yang mendunia. Kini, kawasan itu berupaya menambah daya tarik baru: wisata dirgantara. Melalui ekspedisi bertajuk Fly The Spice Islands, sepuluh anggota Mapala UI menerbangkan paralayang dari puncak Gunung Gamalama, Gamkonora, dan Woka, membuktikan bahwa lanskap kepulauan ini layak dinikmati dari ketinggian.
Penerbangan ini bukan sekadar ajang olahraga ekstrem. Tim menggunakan metode hike and fly, yaitu mendaki puncak terlebih dahulu sebelum meluncur bebas di udara. Pada 8 Agustus 2026, mereka berhasil melakukan penerbangan paralayang pertama yang terdokumentasi dari puncak Gunung Gamalama—sebuah pencapaian yang bisa menjadi rujukan bagi pengembangan wisata petualangan di daerah tersebut.
Daya Tarik Utama: Menyusuri Langit di Atas Tiga Gunung Bersejarah
Setiap gunung dalam ekspedisi ini menawarkan karakter dan tantangan berbeda. Gunung Gamalama di Ternate adalah gunung api aktif yang mengapit ibu kota provinsi, memberikan pemandangan langsung ke arah benteng-benteng peninggalan kolonial dan hamparan laut biru. Sementara itu, Gunung Gamkonora di Halmahera Barat dikenal sebagai gunung tertinggi di Maluku Utara, dan Gunung Woka di Tidore menawarkan panorama alam yang masih perawan.
Bagi para pelancong yang mencari pengalaman berbeda dari sekadar liburan pantai, wisata paralayang di sini menawarkan sensasi tersendiri. Anda bisa menyaksikan gugusan pulau, hutan tropis, dan garis pantai dari ketinggian ribuan meter, sambil membayangkan bagaimana kapal-kapal rempah berlayar di bawah sana berabad-abad lalu.
Aktivitas yang Bisa Dilakukan
- Paralayang tandem dengan pilot berpengalaman bagi pemula yang ingin mencoba terbang.
- Trekking atau pendakian gunung bagi yang ingin menikmati pemandangan secara bertahap.
- Fotografi lanskap dari titik-titik lepas landas yang menawarkan sudut pandang unik.
- Mengunjungi desa-desa sekitar untuk belajar tentang pengolahan hasil bumi lokal.
Dampak untuk Ekonomi Desa: Dari Kopra ke Tepung Kelapa
Ekspedisi ini berjalan beriringan dengan program pengabdian masyarakat Universitas Indonesia Membangun Nusa (UIMN) di Desa Wailulu, Maluku Tengah. Sebanyak 11 anggota Mapala UI mendampingi warga setempat yang selama ini mengandalkan panen kelapa hingga 30 ton per musim. Sayangnya, hasil panen tersebut mayoritas diolah menjadi kopra dengan harga yang fluktuatif dan bergantung pada tengkulak.
Mapala UI kemudian memperkenalkan inovasi pengolahan kelapa menjadi tepung kelapa. Produk ini dinilai memiliki nilai tambah lebih tinggi dan pasar yang lebih luas dibandingkan kopra mentah. Program ini mencakup sosialisasi, praktik produksi, hingga pengembangan produk pangan turunan, serta pembentukan komunitas kerja agar keberlanjutannya terjamin.
"Kami berharap setelah kegiatan ini selesai, hasilnya juga terus berjalan dan tepung kelapa menjadi salah satu produk unggulan Negeri Wailulu," kata Raja Negeri Wailulu, Muslim Tounussa.
Cara Menuju Lokasi dan Waktu Terbaik Berkunjung
Untuk mencapai Ternate, Anda dapat terbang dari Jakarta atau Makassar menuju Bandara Sultan Babullah. Dari pusat kota Ternate, perjalanan menuju kaki Gunung Gamalama hanya memakan waktu sekitar 30 menit. Sementara itu, untuk mencapai Desa Wailulu di Maluku Tengah, Anda perlu melanjutkan perjalanan dari Ambon menggunakan kapal cepat atau jalur darat.
Musim kemarau antara Mei hingga September adalah waktu paling ideal untuk aktivitas paralayang karena angin lebih stabil dan visibilitas lebih jelas. Bagi wisatawan yang ingin melihat langsung proses pengolahan tepung kelapa, koordinasi dengan pemerintah desa setempat dapat dilakukan terlebih dahulu.
Tips Berkunjung
- Bawa perlengkapan pendakian standar seperti sepatu gunung, jaket windproof, dan sarung tangan.
- Untuk paralayang, pastikan Anda dalam kondisi fisik prima dan tidak memiliki gangguan jantung atau pernapasan.
- Hormati adat istiadat setempat, terutama saat berada di area permukiman warga.
- Konfirmasi jadwal penerbangan paralayang kepada operator atau komunitas olahraga dirgantara setempat, karena aktivitas ini sangat bergantung pada kondisi angin.
Ekspedisi ini bukan hanya tentang adrenalin, tetapi juga tentang membangun koneksi antara petualangan dan kesejahteraan masyarakat. Dengan potensi alam yang luar biasa dan dukungan komunitas lokal, wisata dirgantara di Maluku Utara bisa menjadi destinasi berikutnya yang patut Anda pertimbangkan. Idealnya, luangkan waktu tiga hingga empat hari untuk mengeksplorasi Ternate, Tidore, dan desa-desa di sekitarnya agar pengalaman Anda lebih utuh.