Pencarian

Review FiiO FG3: Headset Gaming Pertama dari Brand Audiophile, Murah Tapi Sound Default-nya Mengecewakan

Kamis, 13 Agustus 2026 • 23:59:31 WIB
Review FiiO FG3: Headset Gaming Pertama dari Brand Audiophile, Murah Tapi Sound Default-nya Mengecewakan
FiiO FG3, headset gaming pertama dari brand audiophile, tampil dengan bobot ringan dan earcup lapang untuk kenyamanan sesi bermain panjang.

NUSA TENGGARA BARAT — FiiO selama ini identik dengan headphone audiophile budget yang punya kualitas suara di atas kelasnya. Maka ketika brand asal Tiongkok ini mengumumkan headset gaming pertama mereka, ekspektasi langsung terdongkrak. Setelah dipakai untuk menguji berbagai game di PS5 dan PC, FG3 terbukti sebagai headset wired solid yang nyaman dipakai berjam-jam, dengan beberapa catatan penting yang perlu kamu pertimbangkan sebelum merogoh kocek.

Kenyamanan: Bobot Ringan, Earcup Lapang, Aman untuk Sesi Gaming Maraton

FiiO jelas serius soal ergonomi. Dengan bobot hanya 11,1 ons, FG3 lebih ringan dari Cherry XTRFY H3 (11,46 ons) dan terasa seimbang di kepala. Clamp force-nya pas — tidak terlalu menekan pelipis, tapi juga tidak longgar. Earcup berbahan woven mesh sangat breathable; dalam pemakaian tujuh jam nonstop, tidak ada keringat menggenang atau kuping yang gerah.

Ruang di dalam earcup juga lega, dan bantalan kepala dari bahan velvet-cloth di atas headband baja stainless membantu mendistribusikan tekanan dengan baik. Earpad-nya bisa dilepas dan diganti kalau suatu saat rusak atau aus.

DAC USB Bawaan: Lebih dari Sekadar Dongle, Juga Pusat Kontrol

FiiO tidak asal tempel DAC murahan. Modul USB-C yang disertakan mendukung sampling rate hingga 192kHz/24-bit dan punya chip DSP dual-core untuk virtual 7.1 surround. Yang lebih penting, DAC ini menyimpan profil EQ yang kamu atur — jadi settingan custom bakal tetap tersimpan meski dipindah ke perangkat lain.

Tombol 'M' di inline control berfungsi mengganti profil EQ, plus ada tombol mute mic dan volume. Indikator LED dengan warna berbeda untuk tiap profil membuatmu tidak perlu menebak-nebak mode yang aktif.

Kustomisasi EQ: Web App Sederhana, Dampaknya Besar

FiiO Control Web, aplikasi pendamping berbasis browser, tampil bersih dan mudah dipahami. Ada equalizer parametrik 10-band yang bisa kamu otak-atik dan simpan sebagai profil custom. Tersedia juga empat preset bawaan: Action, MOBA, FPS, dan MUG (untuk game ritme). Virtual 7.1 surround hanya aktif di preset Action dan mode Cinema untuk menonton film.

Pengaturan tambahan seperti volume mic dan sidetone juga bisa diakses dari sini. Sayangnya, fitur ini hanya bekerja saat headset terhubung lewat DAC — lewat jack 3.5mm biasa, semua preset dan kustomisasi hilang.

Kualitas Suara: Dual Driver Bertenaga, Tapi Preset Default-nya Bermasalah

FG3 memakai dual driver koaksial — 50mm untuk low-mid dan 16mm untuk treble. Saat preset EQ yang tepat dipilih, hasilnya impresif. Di Assassin's Creed Black Flag, efek ombak dan suara dek kapal terasa imersif, dan arah suara NPC terdengar akurat. Di Cyberpunk 2077 dengan preset FPS, langkah musuh bisa dilacak dengan presisi. Distorsi juga tidak muncul bahkan di volume maksimal.

Sayangnya, pengalaman ini baru terasa setelah kamu mengganti profil. Preset default-nya terdengar keruh: bass kurang bertenaga, treble teredam, dan efek pertarungan seperti benturan pedang atau tembakan terasa hambar. Ini kelemahan paling signifikan — headset seharga segini seharusnya bisa langsung enak dipakai tanpa perlu setting.

Mic Boom: Jernih dengan ENC yang Berfungsi

Mic detachable dengan environmental noise cancelation bekerja efektif. Rekaman suara terdengar jelas, sibilant tidak pecah, dan plosif tidak meletup. Saat video YouTube diputar di background dengan volume 70%, suara itu hampir tidak tertangkap mic. Kualitasnya setara Asus ROG Pelta yang harganya hampir dua kali lipat.

Build Quality dan Desain: Titik Terlemah FG3

Ini bagian yang paling sulit dibela. Meski headband-nya stainless steel, hampir seluruh body earcup terasa plastik dan ringkih. Ada bunyi kretek halus saat earcup diputar — tidak terdengar saat dipakai, tapi cukup mengganggu untuk yang sensitif terhadap kualitas material. Di kelas harga ini, kamu bisa dapat build lebih kokoh dari Cherry XTRFY H3 atau Asus ROG Pelta.

Wired-Only: Fleksibel untuk Banyak Platform, Tapi Kamu Terikat Kabel

FG3 murni wired. Kabel 3.5mm sepanjang 0,7 meter bisa langsung dicolok ke controller PS5 atau DualSense, tapi kamu kehilangan akses ke preset EQ, custom profile, dan decoding resolusi tinggi — yang membuat soundstage menyempit. Untuk pengalaman penuh, kamu harus pakai DAC USB yang panjangnya mencapai 2,2 meter. Kalau sofa kamu lebih dari 2,5 meter dari TV, siap-siap duduk dekat-dekat.

Kelebihan dan Kekurangan FiiO FG3

  • Kelebihan: Nyaman untuk pemakaian jangka panjang, mic jernih dengan ENC efektif, DAC USB serbaguna dengan kontrol inline, EQ presets yang bekerja baik untuk genre game spesifik, harga kompetitif.
  • Kekurangan: Sound profile default keruh dan wajib diutak-atik, build quality plastikan dan terasa ringkih, wired-only membatasi mobilitas dan jarak pakai.

Verdict: Headset Gaming Budget Terbaik untuk yang Suka Otak-atik Setting

FiiO FG3 adalah first attempt yang solid — nyaman, fitur DAC-nya matang, dan mic-nya kelas atas. Tapi ini bukan headset plug-and-play. Kamu harus rela meluangkan waktu untuk mengatur EQ sebelum sound-nya benar-benar enak. Kalau kamu tipe gamer yang suka eksplorasi pengaturan dan butuh headset serbaguna untuk PC, PS5, Switch, hingga HP, FG3 adalah pilihan cerdas di harga USD 69. Tapi kalau kamu mau headset yang langsung enak dipakai tanpa setting dan build-nya terasa premium, ada baiknya menabung lebih untuk Cherry XTRFY H3 atau Asus ROG Pelta.

Follow lombok24.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: tomsguide.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks