MATARAM — Gelaran bursa kerja di Universitas Islam Negeri (UIN) Mataram pekan lalu justru menjadi cermin pahit bagi para pencari kerja muda. Dari puluhan lowongan yang tersedia, mayoritas hanya membuka posisi di bidang teknik dan keuangan, meninggalkan jurusan-jurusan lain tanpa celah.
Ilmu Falak Tak Tersedia di Bursa Kerja
Mila (21), mahasiswa Jurusan Ilmu Falak Fakultas Syariah UIN Mataram, datang dengan harapan besar. Namun, ia mengaku tak menemukan satu pun lowongan yang relevan dengan keahliannya.
“Ternyata di job fair ini kebanyakan itu yang engineering, finance. Jadi untuk jurusan pribadi saya kayaknya jarang yang ada,” ujarnya kepada Suara NTB, pekan kemarin.
Meski begitu, Mila tak menyerah. Ia berencana mencari lowongan lewat aplikasi daring atau mengikuti program magang. Jika tetap buntu, ia mengaku siap mengambil pekerjaan apa pun yang tersedia. “Jadi agak susah cari kerja untuk Gen Z,” katanya.
Lulusan Teknik Mesin Justru Kerja di Bali
Nasib serupa dialami M. Zayadi, mahasiswa Jurusan Teknik Mesin Universitas Mataram. Ironisnya, satu-satunya pekerjaan yang pernah ia dapatkan justru berada di Bali, dan kontraknya kini sudah berakhir.
“Kalau dari segi pandang, memang agak sulit mencari pekerjaan. Lokernya juga gitu-gitu aja. Mungkin kebanyakan yang di NTB susah,” tuturnya.
Zayadi mengaku tak lagi memusingkan kesesuaian antara jurusan dan pekerjaan. Ia siap menggeluti profesi apa pun demi pengalaman, meski kesempatan tetap sulit diraih. “Bebas. Hitung-hitung cari pengalaman. Tapi tetap lumayan sulit,” akunya.
Magang Pemerintah Jadi Pelarian
Nia, alumni UIN Mataram jurusan Perbankan Syariah, memilih jalur magang yang digelar pemerintah untuk tetap produktif. Ia mengaku program tersebut cukup membantu di tengah sempitnya lapangan kerja.
Sama seperti mahasiswa lain, Nia juga tak pilih-pilih pekerjaan. “Bebas aja sebenarnya. Cari pengalaman aja dulu,” terangnya.
Ia berharap pemerintah tak hanya membuka lebih banyak lowongan, tetapi juga melonggarkan kualifikasi yang dinilai terlalu ketat dan selektif.
Angkatan Kerja NTB Didominasi Lulusan SD dan SMP
Data Dinas Ketenagakerjaan dan Transmigrasi (Disnakertrans) NTB menunjukkan, dari sekitar 5,77 juta penduduk NTB, sebanyak 3,11 juta jiwa tergolong angkatan kerja. Namun, sekitar 60 persen di antaranya hanya tamatan SD dan SMP. Sisanya merupakan lulusan SMA dan perguruan tinggi.
Kepala Disnakertrans NTB, Aidy Furqan, menyebut salah satu kendala utama tamatan perguruan tinggi terserap dunia kerja adalah kriteria pekerjaan yang dicari cenderung selektif. Pernyataan itu mengonfirmasi keresahan mahasiswa yang mengaku sulit menemukan lowongan sesuai jurusan.
Fenomena Terobos Jurusan Jadi Sinyal Darurat
Fenomena mahasiswa yang rela bekerja di luar bidang keahlian bukan lagi sekadar pilihan taktis. Ini adalah bukti nyata lebarnya jurang antara kurikulum universitas dengan kebutuhan pasar kerja di daerah. Jumlah lulusan perguruan tinggi terus meningkat, sementara lapangan pekerjaan di NTB masih minim.
Zayadi berharap pemerintah daerah segera membuka lebih banyak lapangan kerja khusus anak muda, dan tak lupa mempertimbangkan standar upah yang layak.