NUSA TENGGARA BARAT — Kinerja keuangan MBMA pada awal 2026 tidak hanya ditopang oleh pendapatan yang tumbuh dua digit. EBITDA perseroan melesat 361 persen secara tahunan menjadi US$143 juta, dari sebelumnya US$31 juta pada kuartal I 2025. Alhasil, laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk (NPATMI) berbalik positif menjadi US$29,9 juta, setelah sebelumnya mencatat rugi bersih US$3,5 juta.
Presiden Direktur MBMA, Teddy Nuryanto Oetomo, menyebut capaian ini sebagai awal tahun yang solid. "MBMA mencatat awal tahun yang kuat pada 2026, didukung oleh peningkatan volume bijih nikel, harga jual yang lebih baik, dan penguatan margin NPI, sejalan dengan kenaikan produksi limonit dan saprolit," ujar Teddy dalam keterangan resmi, Jumat (10/7). Ia menekankan fokus perusahaan pada efisiensi operasional dan alokasi modal yang disiplin.
Produksi Bijih Nikel Melonjak 143 Persen, Smelter Mulai Panas
Dari sisi operasional, volume bijih nikel yang ditambang melonjak 143 persen menjadi 7,7 juta wet metric tonnes (wmt). Kenaikan ini didorong oleh produksi limonit dan saprolit yang signifikan. Penjualan limonit tercatat naik 126 persen menjadi 4,8 juta wmt, mayoritas untuk memasok pabrik High Pressure Acid Leaching (HPAL). Sementara itu, pengiriman saprolit meningkat 42 persen menjadi 1,9 juta wmt, seiring optimalisasi pasokan dari tambang Sulawesi Cahaya Mineral (SCM) untuk kebutuhan smelter milik perseroan.
Margin bisnis bijih nikel tetap terjaga. Saprolit mencatat margin tunai US$4 per wmt, sedangkan limonit mencapai US$10,1 per wmt. Pada segmen Rotary Kiln Electric Furnace (RKEF), MBMA mengolah 2,2 juta wmt bijih saprolit dan menghasilkan 19.990 ton nikel dalam bentuk NPI, termasuk Low-Grade Nickel Matte (LGNM). Produksi ini naik 23 persen secara tahunan setelah kegiatan pemeliharaan selesai pada 2025.
Proyek Hilir HPAL 95 Persen Rampung, Target Produksi Semester II 2026
MBMA terus mempercepat pengembangan proyek hilir melalui PT Sulawesi Nickel Cobalt (SLNC). Hingga akhir kuartal I 2026, pembangunan pabrik HPAL telah mencapai 95 persen, sedangkan Feed Preparation Plant mencapai 94 persen. Proyek ini telah menyelesaikan tahap commissioning pada akhir kuartal II 2026 dan kini menunggu penerbitan Izin Usaha Industri (IUI). Produksi komersial dijadwalkan meningkat secara bertahap pada semester II 2026.
Di sisi keuangan, perseroan mempertahankan likuiditas yang kuat. Per 31 Maret 2026, kas dan setara kas MBMA mencapai US$350 juta, dengan total utang US$1,06 miliar dan utang bersih US$710 juta. Rasio utang bersih terhadap EBITDA berada di level 2,1 kali, jauh di bawah batas covenant sebesar lima kali. Untuk sepanjang 2026, MBMA menargetkan pengiriman 8–10 juta wmt bijih saprolit, penjualan 20–25 juta wmt bijih limonit, serta produksi 70.000–80.000 ton nikel dalam bentuk NPI dan 27.000–30.000 ton MHP dari operasi HPAL ESG.