MATARAM — Tujuh layanan utama PLUT KUMKM NTB menjadi objek kajian mahasiswa Sosiologi Unram dalam program PKL yang digelar beberapa waktu lalu. Layanan tersebut meliputi konsultasi bisnis, pelatihan peningkatan kapasitas SDM, inkubasi usaha, fasilitasi akses pembiayaan, legalitas usaha, digitalisasi pemasaran, serta kemitraan dan akses pasar.
Ketujuh instrumen itu, menurut hasil pengamatan mahasiswa, dirancang untuk menurunkan hambatan struktural yang selama ini membelenggu sektor UMKM di NTB. PLUT sendiri menyelenggarakan layanan secara konsultatif dan gratis bagi pelaku usaha.
PLUT sebagai Agen Perubahan Mindset Pedagang
Mahasiswa yang terlibat langsung dalam pendampingan menemukan bahwa peran business consultant di PLUT melampaui fungsi teknis. Mereka bertindak sebagai agen perubahan yang mentransformasi pola pikir pedagang tradisional menjadi wirausahawan adaptif.
Pembinaan dilakukan secara bertahap. Tahap awal berupa pendataan dan pemetaan profil UMKM binaan untuk klasifikasi berdasarkan skala, sektor, dan permasalahan. Tahap kedua mencakup pelatihan teknis dan manajerial seperti pencatatan keuangan sederhana, pengemasan produk, branding, hingga penggunaan marketplace.
Relasi Kuasa dan Tantangan Pembinaan
Dari perspektif sosiologi kelembagaan, mahasiswa mengamati adanya relasi kuasa yang cenderung asimetris antara fasilitator dan pelaku UMKM akibat ketimpangan pengetahuan. Meski demikian, PLUT berupaya membangun relasi partisipatif melalui forum dan kelompok binaan agar UMKM memiliki rasa memiliki terhadap program.
Hasil observasi mahasiswa mengidentifikasi tiga tantangan utama pembinaan. Pertama, rendahnya literasi digital dan keuangan di kalangan pelaku UMKM. Kedua, lambatnya proses pengurusan legalitas usaha. Ketiga, terbatasnya anggaran dan SDM PLUT sehingga cakupan pendampingan belum merata ke seluruh kabupaten/kota di NTB.
Rekomendasi: Tambah Konsultan dan Perkuat Literasi Digital
Mahasiswa Sosiologi Unram mengajukan tiga rekomendasi berbasis temuan lapangan. Pertama, penambahan jumlah business consultant dan penguatan kapasitas digital mereka. Kedua, program literasi digital dan keuangan yang lebih intensif serta berbasis komunitas. Ketiga, sinergi antara PLUT, perguruan tinggi, dan pemerintah daerah untuk riset serta pendampingan berkelanjutan.
Bagi mahasiswa, PKL ini tidak hanya meningkatkan kompetensi dalam teknik wawancara dan analisis data, tetapi juga membuktikan relevansi ilmu sosiologi dalam menganalisis kebijakan publik dan praktik pemberdayaan ekonomi kerakyatan. Mereka menyimpulkan bahwa keberhasilan pemberdayaan UMKM tidak hanya ditentukan oleh pelatihan, tetapi juga oleh struktur sosial, modal budaya, dan jaringan sosial pelaku usaha.