MATARAM — Ratusan desa di Nusa Tenggara Barat masih harus berhadapan dengan persoalan sinyal telekomunikasi yang lemah. Data Dinas Komunikasi, Informatika, dan Statistik (Diskominfotik) NTB mencatat ada 33 titik blank spot atau titik buta sama sekali, ditambah 117 desa yang kualitas sinyalnya sangat minim. Wilayah-wilayah itu tersebar di empat kabupaten: Bima, Dompu, Sumbawa, dan Lombok Utara.
Geografis Berbukit dan Pertimbangan Ekonomi Jadi Hambatan Utama
Ahsanul Khalik menjelaskan bahwa faktor geografis menjadi penyebab dominan. "Kenapa dia yang blank spot ini lebih dipengaruhi oleh situasi geografis yang memang berbukit, pelosok dan berbukit," ujarnya, Rabu (17/6/2026).
Selain kontur alam, aspek ekonomi juga menghalangi ekspansi jaringan. Para penyedia layanan telekomunikasi masih enggan membangun infrastruktur di daerah dengan jumlah pengguna terbatas karena dinilai belum bisa mengembalikan modal. "Provider itu belum mau masuk karena jumlah pengguna dari sisi ekonomi memang masih belum bisa kembali modal dengan hasilnya," jelas Ahsanul.
77 Titik Ditangani Dua Provider, NTB Belum Dapat Alokasi Program Bakti Komdigi
Dari seluruh titik lemah sinyal yang tercatat, sebanyak 77 lokasi kini tengah dalam proses penanganan oleh dua provider telekomunikasi. Penanganan ini rencananya akan didukung intervensi pemerintah pusat lewat program Bakti Komdigi. Namun, Ahsanul menyebut NTB belum mendapatkan alokasi program dari Kementerian Komunikasi dan Digitalisasi pada tahun ini. Padahal, tahun-tahun sebelumnya program serupa sempat diberikan, khususnya di kawasan Pulau Sumbawa.
Destinasi Wisata Pulau Moyo Masih Terkendala Sinyal, Jadi Prioritas Pemda
Pemerintah daerah memberikan perhatian khusus terhadap kualitas sinyal di kawasan pariwisata. Salah satu destinasi yang masih mengalami sinyal lemah adalah Pulau Moyo. Ahsanul menyatakan intervensi terhadap daerah-daerah tersebut akan dilakukan secara bertahap.
Dampak Langsung ke Puskesmas dan Sekolah yang Andalkan Sistem Aplikasi
Persoalan sinyal lemah dan blank spot ini berdampak langsung pada operasional fasilitas umum. Puskesmas dan sekolah yang kini banyak mengandalkan sistem berbasis aplikasi dan membutuhkan koneksi internet untuk berjalan menjadi yang paling terdampak. "Sebab beberapa fasilitas umum seperti Puskesmas dan sekolah juga membutuhkan jaringan internet, karena ada beberapa sistem yang menggunakan aplikasi dan membutuhkan internet," kata Ahsanul.