NUSA TENGGARA BARAT — Produksi film dokumenter berjudul Néstor resmi dimulai pekan ini, mengangkat kehidupan dan warisan sinematografer legendaris Spanyol Néstor Almendros. Sutradara Laurent Bouzereau dipercaya mengarahkan, sementara aktor peraih Oscar Javier Bardem menjadi narator. J.A. Bayona duduk sebagai produser dalam proyek kolaborasi Spanyol-Amerika Serikat yang didukung ICAA dan Movistar Plus+.
Néstor Almendros merupakan salah satu figur paling berpengaruh dalam sejarah sinematografi Spanyol dan Eropa. Ia dikenal lewat karya-karya Hollywood besar seperti Kramer vs. Kramer, The Blue Lagoon, dan Days of Heaven arahan Terrence Malick.
Berkat Days of Heaven, Almendros meraih Piala Oscar untuk Sinematografi Terbaik pada 1978. Ia tercatat sebagai orang Spanyol pertama yang memenangkan penghargaan bergengsi tersebut.
Jejak Kolaborasi dengan Auteur Eropa
Selain berkarier di Hollywood, Almendros lama bekerja sama dengan para sutradara auteur Eropa. Nama-nama seperti François Truffaut, Éric Rohmer, dan Robert Benton masuk dalam daftar kolaboratornya.
Karya-karyanya dianggap ikut mengubah cara dunia memahami bahasa visual sinema. Reputasinya sebagai director of photography (DoP) bertahan jauh setelah ia meninggal di New York pada 1992 akibat AIDS.
Siapa di Balik Layar Néstor
Laurent Bouzereau dipercaya menyutradarai Néstor setelah sebelumnya menggarap dokumenter Natalie Wood: What Remains Behind, JAWS@50: The Definitive Inside Story, dan Faye. Naskahnya ditulis Esteve Riambau bersama Josep Maria Civit, yang juga bertindak sebagai sinematografer.
Javier Bardem akan membacakan kata-kata yang ditulis Almendros semasa hidupnya. Proyek ini diproduksi J.A. Bayona bersama Laurent Bouzereau, Belén Atienza, Markus Keith, dan Óscar Romagosa.
Kisah Hidup Penuh Pergolakan
Almendros lahir di Barcelona pada 1930, di penghujung Perang Saudara Spanyol dan masa kediktatoran Franco. Kondisi itu memaksa keluarganya mengungsi ke Kuba, tempat ia melewati masa revolusi sekaligus menjadi korban persekusi terhadap kaum homoseksual di bawah rezim Castro.
Ia kemudian pindah ke Paris dan menemukan kebebasan artistik. Di kota itu pula Almendros tumbuh menjadi salah satu sinematografer besar gelombang Nouvelle Vague.
Reklamasi Sosok dan Pandangan Sutradara
Sinopsis dokumenter ini menyebut Néstor berupaya mengembalikan posisi Almendros, baik sebagai seniman yang mengubah bahasa sinema maupun sebagai pria yang membela kebebasan di tengah represi zamannya.
"Néstor has been a profound source of inspiration," ujar J.A. Bayona dalam pernyataannya.
"Behind his discreet personality there was an exceptional artist who changed the way we understand light, but also a man of great courage, committed to politics and the defence of LGBTI+ rights."
Bouzereau menambahkan, "Néstor Almendros stands at the crossroads of politics, cinema, and identity. As a director, it is an honor to tell the timeless and inspiring story of a humanistic artist who did everything with a camera."
Lokasi Syuting dan Jadwal Produksi
Pengambilan gambar dijadwalkan berlangsung selama beberapa bulan. Lokasi mencakup Barcelona, Paris, London, New York, dan Kuba, seluruhnya titik penting dalam perjalanan hidup Almendros.
Bagi industri film Indonesia, proyek ini menambah deretan dokumenter yang menyorot kru di balik kamera. Figur seperti Almendros jarang jadi subjek utama, padahal perannya menentukan arah estetika sebuah film.