NUSA TENGGARA BARAT — Kelangkaan BBM di Kecamatan Banda dan Kecamatan Kepulauan Banda, Maluku Tengah, dalam beberapa hari terakhir membuat harga Pertalite di tangan pengecer meroket tiga kali lipat dari harga resmi. Menyikapi situasi itu, Pertamina mempercepat distribusi melalui jalur laut dengan mengirimkan kapal pengangkut yang memuat 60 kiloliter Pertamax dan 3 kiloliter Dexlite. Area Manager Communication, Relations & CSR Pertamina Patra Niaga Regional Papua Maluku, Ispiani Abbas, mengonfirmasi bahwa pengiriman dilakukan pada Minggu (26/7/2026) siang setelah seluruh prosedur keselamatan pelayaran terpenuhi.
Cuaca dan Izin Pelayaran Sempat Tunda Keberangkatan
Keberangkatan kapal sempat tertunda karena menunggu penerbitan Surat Persetujuan Berlayar (SPB) dari Kantor Syahbandar dan Otoritas Pelabuhan (KSOP). Ispiani menjelaskan bahwa aspek keselamatan pelayaran menjadi prioritas utama mengingat distribusi ke Banda Neira sangat bergantung pada kondisi cuaca perairan Maluku. "Setelah seluruh persyaratan dipenuhi dan mempertimbangkan kondisi cuaca, kapal akhirnya diberangkatkan," ujarnya.
Pertamina terus berkoordinasi dengan Syahbandar, operator transportasi, serta pemerintah provinsi dan kabupaten setempat untuk memastikan pasokan tiba tepat waktu. Pemantauan stok di lembaga penyalur resmi juga dilakukan secara berkala guna mengantisipasi kelangkaan serupa di masa mendatang.
Harga Pengecer di Luar Kendali Pertamina
Menanggapi lonjakan harga Pertalite hingga Rp30.000 per liter di pengecer, Pertamina menegaskan bahwa harga resmi hanya berlaku di lembaga penyalur resmi. Sementara harga yang ditetapkan pengecer berada di luar kewenangan perusahaan. Masyarakat diimbau untuk membeli BBM sesuai kebutuhan dan memanfaatkan lembaga penyalur resmi agar distribusi lebih merata.
Pertamina juga berkomitmen mengevaluasi pola penyaluran BBM di wilayah kepulauan bersama seluruh pemangku kepentingan guna meningkatkan keandalan pasokan. Informasi lebih lanjut dapat diperoleh melalui Pertamina Customer Solution 135.