MATARAM — Spanduk peringatan Hari Anak Nasional memang terpasang di berbagai sudut Kota Mataram. Balon diterbangkan, media sosial dipenuhi foto anak-anak tersenyum. Namun di balik seremoni itu, pegiat sosial Wiedmust menulis catatan tajam: ruang bermain anak perlahan menghilang digantikan beton.
“Kita membangun mal, apartemen, ruko, jalan layang, dan kafe. Semua memang penting. Tapi tanpa sadar kita juga mengambil sesuatu yang tak bisa dibangun kembali: masa kecil mereka,” tulisnya dalam catatan yang dirilis Mataram Radio City, Selasa (23/7).
Anak Bingung: Main di Luar Tak Ada Tempat, di Dalam Dimarahi
Wiedmust menggambarkan kebingungan anak-anak di tengah hiruk-pikuk pembangunan. Anak laki-laki masih menggenggam layang-layang, anak perempuan masih memeluk boneka kesayangan. Namun mereka kebingungan mencari lapangan. Yang tersisa hanya beton, pagar, dan papan bertuliskan “Areal Pembangunan.”
“Lucunya, orang dewasa sering berkata, ‘Main di luar bahaya.’ Ketika anak memilih bermain gawai di rumah, kita malah mengomel, ‘Main HP terus!’ Anak jadi bingung,” tulisnya.
Ironi Makanan Anak: Musibah atau Kelalaian?
Catatan itu juga menyoroti persoalan keamanan pangan anak. Beberapa kali kasus keracunan terjadi dalam kegiatan anak-anak. Makanan disiapkan seadanya, pengawasan ala kadarnya. Ironisnya, jika konsumsi rapat orang dewasa terlambat sepuluh menit, grup WhatsApp langsung ramai. Tapi kalau makanan anak bermasalah, sering cukup dijawab, “Namanya juga musibah.”
“Padahal, bagi anak, satu piring makanan yang aman jauh lebih berharga daripada seratus pidato tentang masa depan,” tulis Wiedmust.
Orang Tua Sibuk Mengejar Masa Depan, Kehilangan Masa Kini
Yang paling menyedihkan, menurut catatan itu, banyak orang tua bekerja keras demi masa depan anak. Namun tanpa disadari, mereka kehilangan masa kini bersama anak. Suatu hari rumah mungkin sudah lunas, mobil sudah berganti, jabatan sudah tercapai. Namun suara kecil yang dulu memanggil, “Ayah… Ibu… lihat aku…”, mungkin telah berubah menjadi suara orang dewasa yang hanya sesekali menelepon.
Wiedmust mengingatkan bahwa masa kecil tidak mengenal tombol ulang. Anak tidak akan pernah berusia tujuh tahun untuk kedua kalinya. Tidak akan lagi meminta digendong ketika tubuhnya sudah lebih tinggi dari kita.
Ukuran Bangsa Bukan Tinggi Gedung, Tapi Senyum Anak
Catatan itu menutup dengan ajakan agar Hari Anak Nasional bukan sekadar seremoni setahun sekali. “Sebab ukuran sebuah bangsa bukan hanya tingginya gedung yang berdiri, melainkan seberapa besar hati orang dewasanya menjaga senyum anak-anaknya.”
“Mungkin yang paling miskin di negeri ini bukan mereka yang tidak punya uang. Tetapi mereka yang tidak lagi punya waktu untuk mendengarkan tawa anak-anak,” tulis Wiedmust. “Jangan sampai ketika kita akhirnya punya banyak waktu, justru anak-anak kita sudah tidak lagi membutuhkan pelukan.”