NUSA TENGGARA BARAT — Fakta ini bukan sekadar asumsi. Laporan dari lembaga asuransi dan data kepolisian di sejumlah negara, terutama Amerika Serikat dan Eropa, secara konsisten menunjukkan bahwa rasio pencurian kendaraan listrik sangat kecil. Dalam beberapa studi, risiko EV dicuri bisa puluhan kali lebih rendah ketimbang mobil bermesin pembakaran internal (ICE). Ironisnya, justru kendaraan hybrid—yang menggabungkan mesin BBM dan motor listrik—kerap menjadi incaran, bukan EV murni.
Teori Keamanan Baterai dan Sistem Pelacakan Canggih
Salah satu teori utama yang beredar adalah soal keamanan teknis. EV modern dibekali sistem manajemen baterai yang sangat kompleks dan terintegrasi dengan perangkat lunak pabrikan. Baterai tidak bisa begitu saja dicopot dan dijual di pasar gelap karena setiap unit memiliki kode unik yang terverifikasi secara online.
Selain itu, hampir semua EV kini dilengkapi GPS tracker dan konektivitas internet bawaan. Begitu mobil meninggalkan area yang diotorisasi oleh pemilik, pabrikan bisa langsung melacak posisinya secara real-time. Fitur semacam ini membuat proses penjualan kembali unit curian menjadi sangat berisiko bagi pelaku.
Pasar Gelap Suku Cadang EV yang Belum Matang
Teori kedua berkaitan dengan pasar gelap. Pencuri kendaraan biasanya menjual mobil secara utuh atau memotongnya menjadi suku cadang. Namun, permintaan untuk komponen EV bekas masih sangat terbatas. Baterai dan motor listrik punya standar keamanan tinggi dan biasanya hanya bisa diservis di bengkel resmi yang terdaftar.
Berbeda dengan mesin bensin atau transmisi yang bisa dipasang di banyak model lawas, komponen EV sangat spesifik per merek dan tahun produksi. Hal ini membuat nilai jual kembali komponen curian menjadi rendah, sehingga secara ekonomi tidak menguntungkan bagi maling.
Apakah Ini Berlaku untuk Pasar Indonesia?
Di Indonesia, tren serupa mulai terlihat meskipun basis EV masih kecil. Data dari kepolisian dan asosiasi asuransi mencatat klaim kehilangan untuk mobil listrik seperti Hyundai Ioniq 5 atau Wuling Air ev nyaris nol. Sebaliknya, laporan pencurian untuk motor matik dan mobil LCGC bekas masih mendominasi.
Namun, para ahli mengingatkan bahwa situasi bisa berubah seiring bertambahnya populasi EV di jalanan. Jika pasar suku cadang bekas EV mulai terbentuk, risiko pencurian bisa meningkat. Untuk saat ini, pemilik EV bisa sedikit lebih lega karena teknologi dan ekosistem pasar belum mendukung aksi kriminal tersebut.