SUMBWA — Pagi itu di Desa Ropang, Muhammad Iqbal duduk di teras rumah warga sambil menikmati kopi kampung khas Desa Lawin. Dari tempatnya duduk, ia bisa melihat langsung hamparan pohon kemiri di belakang rumah penduduk, tepat di halaman depan kawasan hutan yang disebut Dodo Rinti.
Dodo Rinti bukan sekadar bukit biasa. Kawasan hutan di perbukitan selatan Sumbawa ini dikenal memiliki kandungan mineral emas yang sangat besar—bahkan disebut dua kali lipat dari kandungan di Batu Hijau, Sumbawa Barat.
“Dodo Rinti beserta bukit-bukit hutan di sekitarnya telah menjadi magnet bagi perusahaan dan penambang emas,” tulis Iqbal dalam catatannya yang dimuat NTBSatu.
Aktivitas Tambang dan Kenyataan di Lapangan
Saat ini, sejumlah perusahaan tambang mineral telah melakukan investasi, eksplorasi, hingga eksploitasi di kawasan Dodo Rinti dan area sekitarnya. Kegiatan pertambangan rakyat pun berlangsung masif.
Iqbal menyebut bahwa mengambil dan memanfaatkan kandungan emas mineral tidaklah salah, asalkan dikelola untuk kesejahteraan. Namun ia mengingatkan satu fakta geologis yang tak bisa ditawar: emas adalah sumber daya tak terbarukan.
“Kandungan yang ada itu hanya dapat diambil sekali saja. Bukit yang berisi emas mineral itu tidak dapat diperbarui. Jangankan berbunga dan berbuah kembali, tumbuh pucuk pun tidak ada,” tulisnya.
Kemiri: Pohon Penyelamat di Tengah Ancaman Tambang
Di sisi lain, kemiri tumbuh subur di perbukitan Kecamatan Ropang yang membawahi lima desa—Lebin, Lawin, Lebangkar, Ranan, dan Ropang sendiri. Petani di sana menyebut pohon kemiri sebagai pohon penyelamat dan pohon kehidupan.
“Kemiri menyelamatkan petani saat paceklik, dapur mengepul dan petani bisa bertahan hidup,” tulis Iqbal.
Komoditas ini tidak hanya laku di pasar domestik untuk kebutuhan makanan, kesehatan, dan kecantikan. Kemiri asal Sumbawa, Bima, dan Lombok juga telah diekspor ke Arab Saudi, Jepang, dan Belanda. Lebih dari itu, kemiri berfungsi sebagai tanaman konservasi: menyerap dan menyimpan air, melindungi dari erosi, memulihkan lahan kritis, hingga menyerap karbon.
Keseimbangan yang Dipertaruhkan
Iqbal menulis bahwa kemiri dan emas di Dodo Rinti sama-sama memberi dampak ekonomi yang menguntungkan. Namun perbedaannya fundamental: satu bisa dipanen bertahun-tahun, satu hanya sekali.
“Kemiri adalah salah satu inti dan emas Dodo Rinti adalah hadiah agar menjadi daya ungkit dan gerak kemajuan bagi masyarakat,” tulisnya.
Catatan ini, menurut Iqbal, mungkin hanya sepintas lalu. Namun ia yakin kegelisahan yang sama dipikirkan banyak orang: apakah kekayaan sumber daya alam di setiap tempat akan menjadi anugerah atau musibah.
“Secara empiris, banyak daerah dan negara yang punya kandungan emas mineral berakhir dengan cerita yang pilu dan menyedihkan. Tetapi ada juga yang berhasil mengelola dengan baik dan menjadi pengungkit dan penggerak kemajuan pembangunan,” pungkasnya.
Apa yang Bisa Dilakukan?
Iqbal tidak menawarkan jawaban tunggal. Namun dari tulisannya tersirat satu pertanyaan: apakah Sumbawa akan membiarkan pohon kemiri—yang telah menjadi penyelamat ekonomi dan ekologi—dikorbankan demi emas yang hanya sekali digali?
Perhatian global terhadap perubahan iklim dan energi terbarukan, kata Iqbal, menjadikan kemiri sebagai salah satu jawaban. Teknologi dan inovasi negara maju kini mendorong konsep keberlanjutan, dan kemiri—dengan fungsi ekologis dan ekonomisnya—berada tepat di pusarannya.