NUSA TENGGARA BARAT — Jakarta – Pemerintah melalui Kementerian ESDM membeberkan fakta pahit soal perjalanan transisi energi nasional. Meski total kapasitas pembangkit listrik telah mencapai 108 Gigawatt (GW), porsi pembangkit fosil masih mendominasi hingga 85 persen atau setara 91,58 GW. Dari jumlah itu, batu bara menjadi "raja" dengan porsi 56 persen, disusul gas 23 persen, dan BBM 6 persen. Sementara itu, porsi EBT baru mencapai 15 persen atau 16,26 GW.
Realisasi Produksi Listrik: Batu Bara Semakin Sulit Dikendalikan
Plt. Direktur Jenderal Ketenagalistrikan Kementerian ESDM, Tri Winarno, mengungkapkan bahwa realisasi produksi listrik dari batu bara tahun lalu bahkan melesat hingga 66,7 persen. Angka ini jauh melampaui batas aman target RUKN yang sebesar 62 persen. "Struktur bauran energi nasional mencerminkan upaya transisi yang terus berjalan, namun jujur masih memerlukan akselerasi kuat," ujar Tri dalam rapat kerja bersama Komisi XII DPR RI di Jakarta, Jumat (5/6/2026).
Hingga April 2026, dominasi batu bara masih bertengger di level 64,87 persen. Artinya, target penurunan yang dicanangkan pemerintah masih jauh dari kenyataan di lapangan.
Jawa-Bali Masih Kecanduan Fosil, Indonesia Timur Terjebak Smelter
Ketimpangan paling terlihat terjadi di pusat ekonomi nasional, Jawa-Bali. Dari total produksi listrik raksasa sebesar 87,43 TWh di wilayah ini, sebanyak 70,96 persen disuplai oleh PLTU batu bara. Sementara porsi EBT di sana hanya 10 persen. Ironisnya, Sumatra justru mencatatkan rapor hijau dengan porsi EBT mencapai 41 persen berkat melimpahnya pembangkit hidro dan panas bumi.
Kondisi lebih memprihatinkan terjadi di Maluku dan Papua. Di wilayah tersebut, porsi batu bara mencapai 87,9 persen, sementara capaian EBT hanya 3,67 persen. Tri menjelaskan, ini sangat dipengaruhi oleh konsumsi industri smelter yang masif. "Ini mencerminkan ketergantungan wilayah timur terhadap batu bara dan BBM masih sangat tinggi," tegasnya.
10 Ribu Lokasi Masih Gelap, NTT dan Papua Jadi Prioritas
Selain soal bauran energi, pemerintah juga dihadapkan pada tugas berat melistriki daerah terisolasi. Data tahun 2025 menunjukkan masih ada 10.068 lokasi di seluruh Indonesia yang belum tersentuh listrik. Lebih dari separuhnya — tepatnya 5.555 lokasi — berada di Maluku, Papua, dan Nusa Tenggara Timur (NTT).
Menariknya, Jawa Barat dan Jawa Timur juga masih menyisakan 1.630 lokasi tanpa listrik, disusul Kalimantan dengan 1.099 lokasi. Di sisi lain, Nusa Tenggara menunjukkan secercah harapan: produksi listrik di sana mencapai 2,59 TWh dengan 20,35 persen di antaranya sudah dari EBT. Namun, penggunaan BBM di wilayah itu masih sangat tinggi, mencapai 33,71 persen. "Karena masih banyak daerah isolated yang terpaksa disuplai oleh pembangkit BBM dan mesin gas skala kecil," pungkas Tri.