MATARAM — Ayom Pandu Prakoso, Diah Primadewi, dan Sifa Salsabila Pratama, mahasiswa Fakultas Kedokteran UNIZAR, berhasil menembus 20 besar finalis dan keluar sebagai runner-up dalam kompetisi esai internasional yang digelar secara hybrid oleh Cakap Riset dan Universitas PGRI Yogyakarta, 16-17 Mei 2026 lalu.
Dalam kompetisi bertema “From Local Ideas to Global Impact: Empowering Youth as Innovation Catalysts for a Sustainable Future”, tim ini mengangkat gagasan berjudul “Y-CLIC: Youth Community Learning & Certification Model To Prevent Early Marriage Through Contextual Life Skills Education.”
Gagasan Berbasis Masalah Nyata di NTB
Sifa Salsabila Pratama menjelaskan, ide tersebut lahir dari kegelisahan terhadap tingginya angka pernikahan dini di Nusa Tenggara Barat. Mereka merancang kurikulum edukasi yang bisa dipelajari remaja, mencakup kesehatan reproduksi, kesiapan mental, dan dampak sosial dari perkawinan usia anak.
“Permasalahan pernikahan dini kami kaitkan dengan bidang kesehatan. Dari situ kami merancang sebuah kurikulum yang nantinya dapat dipelajari oleh para remaja,” ujar Sifa dalam wawancara dengan Tim Humas dan Publikasi Biro HKA UNIZAR, Rabu (20/5/2026).
Program Y-CLIC ini menghadirkan konsep pembelajaran berbasis komunitas dan sertifikasi keterampilan hidup. Model ini disebut sejalan dengan program pemerintah seperti Pusat Informasi dan Konseling Remaja (PIK-R).
Proses Panjang dan Bimbingan Intensif
Diah Primadewi mengungkapkan, perjalanan menuju podium juara tidak instan. Awalnya, dosen Fakultas Kedokteran UNIZAR, Bu Ayu Anulus, SST., M.K.M., mendorong mereka mengikuti lomba. Karena kompetisi menggunakan bahasa Inggris, bimbingan kemudian dilimpahkan ke drg. Sabrina Intan Zoraya, M.K.M.
“Kami menggabungkan ide dari drg. Sabrina dengan gagasan dari tim sendiri, lalu mulai menyusun draft scientific paper-nya,” kata Diah. Proses bimbingan berlangsung sejak Februari 2026, mencakup penyusunan paper, penguatan konsep inovasi, hingga simulasi presentasi finalis.
Membawa Nama UNIZAR ke Forum Global
Ketua tim, Ayom Pandu Prakoso, alumni SMAN 1 Mataram, menyatakan rasa syukur atas capaian ini. Menurutnya, kemenangan bukan sekadar piala, melainkan bukti bahwa mahasiswa bisa membawa solusi atas persoalan sosial nyata di NTB ke tingkat internasional.
“Alhamdulillah kami sangat bersyukur bisa meraih Juara II di ajang WISEC 2026. Bagi kami, ini bukan hanya soal prestasi, tetapi bagaimana kami bisa membawa permasalahan yang nyata terjadi di NTB ke forum internasional dan menawarkan solusi yang relevan bagi masyarakat,” ungkap Ayom.
Ia menambahkan, tim harus membagi waktu antara perkuliahan dan persiapan lomba. Dukungan dari dosen pembimbing dan Fakultas Kedokteran UNIZAR menjadi kunci keberhasilan mereka.
Harapan: Tak Sekadar Lomba, Tapi Aksi Nyata
Ayom berharap inovasi Y-CLIC tidak berhenti sebagai proyek kompetisi. Tim menargetkan program ini bisa diimplementasikan sebagai media edukasi remaja untuk menekan angka pernikahan dini di NTB.
“Semoga capaian ini juga bisa memotivasi mahasiswa lainnya untuk terus berani berkarya, berinovasi, dan membawa nama baik UNIZAR di tingkat nasional maupun internasional,” pungkasnya.
Babak luring WISEC 2026 dijadwalkan berlangsung di Yogyakarta pada 27-28 Juni 2026. Tim FK UNIZAR akan kembali mempresentasikan gagasannya di hadapan dewan juri internasional.