LOMBOK TENGAH — Ketua Komisi II DPRD Lombok Tengah Ferdian Elmansyah menyebut pihaknya optimistis proyeksi pajak hiburan Rp 4 miliar dari gelaran MotoGP Mandalika bisa terpenuhi. Optimisme itu berdasar tren jumlah penonton yang hadir selama tiga hari penyelenggaraan.
“Kita sangat optimis target itu bisa terpenuhi melihat tren hitungan jumlah penonton yang hadir,” ucap Ferdian kepada Lombok Post, Selasa (27/10).
Kunjungan Lapangan dan Sinkronisasi Data Wajib Pajak
Sebelum ajang berlangsung, Komisi II DPRD Lombok Tengah bersama Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) menyambangi Sirkuit Mandalika. Kunjungan berlangsung sekitar dua minggu sebelum balapan digelar.
Agenda itu memfokuskan pembahasan pada potensi serta mekanisme pemungutan pajak daerah. Petugas juga melakukan sinkronisasi data pelaku usaha dan wajib pajak di kawasan sirkuit.
“Upaya mengoptimalkan seluruh potensi penerimaan dari gelaran MotoGP,” terang Ferdian.
Target Naik dari Rp 2,4 Miliar Jadi Rp 4 Miliar
Wakil Bupati Lombok Tengah M Nursiah sebelumnya menyatakan pemkab mengubah dan menaikkan target pemasukan pajak hiburan dari MotoGP Mandalika 2026. Keputusan diambil seiring membludaknya penonton yang mencapai 157 ribu orang selama tiga hari.
Pada tahun sebelumnya, Pemkab Lombok Tengah memperoleh pendapatan sekitar Rp 2,4 miliar. Tahun ini penerimaan yang masuk ke kas daerah diharapkan mencapai Rp 3 miliar hingga Rp 4 miliar.
“Tapi berapa angka pastinya, kita masih menunggu perhitungan dari ITDC,” ucap Nursiah.
Sinergi Pemprov NTB, ITDC, MGPA, dan InJourney
Ferdian memberi apresiasi atas sinergi penyelenggaraan ajang yang dinilai semakin rapi dari tahun ke tahun. Kerja sama Pemprov NTB, Pemkab Lombok Tengah, ITDC, MGPA, hingga InJourney disebutnya membuahkan respons positif dari penonton.
Legislatif mengingatkan agar MotoGP tidak sekadar dipandang sebagai target sesaat. Ajang ini dinilai perlu menjadi pemantik pertumbuhan ekonomi kawasan dalam jangka panjang.
Sejak peresmian operasional KEK Mandalika pada 2017, tujuan utamanya adalah menarik investasi skala besar masuk ke Gumi Tastura.
“Evaluasi berkala tetap penting agar dampak investasi fisik seperti pembangunan akomodasi dan hotel baru dapat terealisasi secara nyata dan berkelanjutan,” tegas Ferdian.