Pencarian

Kampung Adat Sade di Lombok Tengah Diusulkan Jadi Cagar Budaya NTB Usai Rekonstruksi 75 Rumah

Senin, 26 Oktober 2026 • 05:31:01 WIB
Kampung Adat Sade di Lombok Tengah Diusulkan Jadi Cagar Budaya NTB Usai Rekonstruksi 75 Rumah
Kepala Dinas Kebudayaan NTB Muhamad Ihwan menyatakan proses pengusulan Kampung Adat Sade sebagai cagar budaya akan dimulai dari Tim Ahli Cagar Budaya Lombok Tengah.

MATARAM — Kepala Dinas Kebudayaan NTB Muhamad Ihwan menyatakan proses cagar budaya akan dimulai dari Tim Ahli Cagar Budaya Lombok Tengah. Rekonstruksi jadi pintu masuk pengusulan, karena kampung adat di Dusun Sade itu baru saja melewati masa pemulihan pascakebakaran.

Dari 75 bangunan rumah adat, tersisa 20 unit yang belum rampung. Ihwan memperkirakan pekerjaan dasar bangunan selesai dalam bulan ini.

Rekonstruksi 75 Rumah Adat Baru Capai 55 Persen

Pemulihan fisik Kampung Adat Sade berjalan atas swadaya warga. Ihwan menyebut progres bangunan dasar menyentuh 55 persen, dengan mayoritas pekerjaan dikerjakan lewat keterampilan arsitektur tradisional masyarakat setempat.

“Sekarang yang terjadi itu (progres) 55 persen. Dari 75 bangunan, sisa 20 yang belum. Mungkin dalam bulan ini selesai untuk dasar bangunannya saja,” ujarnya, Sabtu, 24 Oktober 2026.

Sebagian rumah sudah bisa ditempati. Tim Satgas bersama para ahli tetap melakukan kurasi ulang agar bentuk bangunan mendekati arsitektur adat aslinya.

Anak Muda Sade Jadi Kunci Pewarisan Keterampilan

Rekonstruksi melibatkan banyak anak muda setempat. Bagi Ihwan, keterlibatan itu menjadi jalur transfer pengetahuan arsitektur tradisional yang sulit didapat lewat jalur formal.

“Yang paling menggembirakan itu terjadi pewarisan keterampilan dalam konteks pelestarian dan perlindungan. Rumah adatnya dilestarikan, maestronya juga dilestarikan,” katanya.

Semangat gotong royong warga dinilai jadi faktor utama percepatan pembangunan. Tanpa itu, pemulihan 75 unit rumah adat dalam hitungan bulan sulit terwujud.

Empat Fasilitas Keamanan Disisipkan di Bangunan Baru

Asisten II Setda NTB yang juga Ketua Satgas Rekonstruksi Kampung Adat Sade, Lalu Moh. Faozal, menyebut pembangunan kali ini menambahkan empat item keamanan. Yakni listrik, sanitasi dan drainase, alat pemadam api ringan (APAR), serta toilet.

“Elektrikal ini akan kita desain yang lebih safety. Yang kedua untuk sanitasi dan drainase juga demikian, kita lakukan penataan. Yang ketiga untuk APAR, untuk kebakaran, kemudian yang terakhir untuk toilet umum dan rumah tangga itu akan kita lakukan penataan,” bebernya.

Penataan utilitas diarahkan agar bangunan tetap berfungsi saat bencana terjadi. Pendekatan ini berbeda dari pembangunan awal yang belum mempertimbangkan aspek kebencanaan secara menyeluruh.

Biaya per Rumah Turun dari Rp 115 Juta jadi Rp 75 Juta

Kebutuhan awal yang diusulkan ke pemerintah pusat mencapai Rp 25 miliar hingga Rp 30 miliar. Angka itu dihitung sebelum warga mengerjakan fondasi secara mandiri.

Karena fisik bangunan dasar sudah ditangani masyarakat, biaya per rumah berkurang dari Rp 115 juta menjadi sekitar Rp 75 juta per unit. Pendanaan berasal dari swadaya warga, bantuan publik, serta fasilitasi Pemprov NTB dan Pemkab Loteng.

Pemprov NTB tengah mendata seluruh bantuan yang masuk secara transparan. Pendataan ini menjadi dasar perhitungan sisa kebutuhan anggaran sebelum pengusulan cagar budaya diajukan resmi ke TACB Lombok Tengah.

Follow lombok24.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: suarantb.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks