MATARAM — Pamong Budaya Madya Museum NTB Gunarti menyebut program itu dirancang untuk menjangkau sekolah-sekolah yang lokasinya jauh dari museum. Empat kotak berisi belasan koleksi artefak diangkut ke ruang kelas agar siswa bisa mengenal warisan sejarah dan budaya daerah.
Keris Lombok hingga Ani-Ani Dibawa ke Ruang Kelas
Koleksi yang diperkenalkan mencakup keris Lombok, takepan nabi haparas, serut kecil, pengikel, puset atau bor, tempat perhiasan, gelang tangan, teken ima, kawari, anjuk, sangket pondongan, alat pemanen padi ani-ani, hingga pengepak padi. Siswa tidak hanya mengamati benda bersejarah, tetapi juga mengikuti kegiatan mendongeng tentang sosok anak yang memiliki rasa ingin tahu tinggi terhadap budaya.
"Kami ingin para siswa sekolah yang kami datangi bisa mengenal benda-benda milik nenek moyang mereka," ucap Gunarti dalam pernyataan di Mataram, Minggu.
Mengapa Pengenalan Sejak Dini Dianggap Penting
Gunarti menjelaskan pengenalan koleksi sejarah dan budaya sejak dini membantu siswa memahami peninggalan leluhur sekaligus mengenali identitas budaya mereka. Cerita di balik setiap artefak yang dipamerkan menjadi cara agar anak-anak sekolah dasar mengenal budaya serta jati diri mereka.
Kepala SDN Batu Pedang Murtam mengapresiasi program Museum Masuk Sekolah yang dikelola Museum NTB. Menurutnya, banyak siswa belum memahami warisan budaya di sekitar tempat tinggal mereka yang berada di kawasan Gunung Piring.
"Anak-anak kami akhirnya bisa memahami secara langsung sejarah dan budaya," kata Murtam.
Respons Siswa: Senang Ada Perhiasan dan Keris
Salah seorang siswi kelas VI, Annisa Ramadani, mengaku senang dengan koleksi serta dongeng yang dihadirkan Museum NTB ke sekolahnya.
"Kami senang ada benda-benda bersejarah, seperti perhiasan, tempat perhiasan, dan juga keris," pungkas Annisa.
Museum NTB belum merinci sekolah mana saja yang akan dikunjungi berikutnya. Namun program ini menegaskan arah layanan museum yang tidak menunggu warga datang, melainkan bergerak mendekati pelajar di wilayah pelosok Lombok Tengah.