NUSA TENGGARA BARAT — Drive utama Windows selalu diberi label C: secara default, bukan A: atau B: yang justru huruf awal alfabet. Penamaan ini bukan kebetulan atau kesalahan desain, melainkan warisan konvensi hardware era 1970-an yang masih bertahan sampai sekarang. Buat pengguna yang baru pertama kali mengenal komputer, huruf C: di File Explorer sering jadi pertanyaan pertama.
Microsoft tidak pernah menjadikan C: sebagai pilihan utama tanpa alasan. Huruf A: dan B: sudah "dipakai" jauh sebelum hard disk menjadi media penyimpanan standar di komputer pribadi. Keduanya dialokasikan khusus untuk floppy disk, perangkat yang jadi satu-satunya cara menyimpan dan memindahkan data pada masa awal komputasi personal.
Ketika floppy drive masih menjadi perangkat wajib, sistem operasi seperti MS-DOS dan CP/M menetapkan A: untuk drive floppy pertama dan B: untuk drive floppy kedua. Hard disk yang mulai muncul belakangan otomatis mendapat huruf berikutnya, yaitu C:. Kebiasaan itu terbawa ke Windows dan tidak pernah diubah sampai generasi PC modern.
Mengapa A: dan B: Dikunci untuk Floppy Disk
Pada 1970-an hingga 1980-an, banyak komputer pribadi dirancang dengan dua slot floppy drive. Drive pertama dipakai untuk menjalankan sistem operasi, sementara drive kedua untuk menyalin data atau mengganti disket tanpa harus mencabut yang pertama.
MS-DOS dan sistem operasi sejenis menetapkan huruf secara berurutan sesuai urutan deteksi perangkat saat booting. Karena floppy drive selalu terdeteksi lebih dulu, keduanya "mengunci" huruf A: dan B:. Hard disk yang dipasang kemudian tidak bisa memakai dua huruf itu, mau tidak mau harus mulai dari C:.
Kenapa Konvensi Ini Bertahan Sampai Sekarang
Floppy disk sudah lama ditinggalkan. Komputer modern bahkan banyak yang tidak lagi punya slot floppy drive, dan laptop tipis sudah beralih sepenuhnya ke SSD dan penyimpanan berbasis cloud. Meski begitu, Windows tetap mempertahankan C: sebagai drive sistem.
Alasannya praktis: mengubah penamaan drive sistem akan memecahkan kompatibilitas dengan jutaan aplikasi lama, skrip instalasi, dan konfigurasi jaringan yang sudah mengasumsikan sistem berada di C:. Microsoft memilih mempertahankan konvensi warisan daripada memaksa seluruh ekosistem perangkat lunak menyesuaikan diri.
Apakah Huruf A: dan B: Masih Bisa Dipakai
Windows sebenarnya masih menyediakan huruf A: dan B: untuk perangkat tertentu. Kalau Anda memasang floppy drive eksternal lewat USB, Windows biasanya otomatis memberinya label A: atau B:. Huruf-huruf itu juga bisa dipakai untuk memetakan drive jaringan atau partisi tambahan lewat Disk Management.
Jadi, huruf A: dan B: tidak benar-benar "hilang". Keduanya hanya disisihkan untuk perangkat yang sekarang jarang dipakai, sementara C: tetap menjadi rumah utama sistem operasi karena alasan historis dan kompatibilitas.
Dampak ke Pengguna Sehari-hari
Bagi pengguna awam, penamaan C: nyaris tidak terasa dampaknya. Yang perlu diketahui, jangan sembarangan menghapus atau memformat drive C: karena di situlah Windows, program, dan sebagian besar data sistem tersimpan. Drive lain seperti D:, E:, atau partisi tambahan biasanya dipakai untuk data pribadi atau penyimpanan sekunder.
Pemahaman soal penamaan drive ini juga berguna saat memasang SSD baru atau mengatur partisi. Windows akan tetap menempatkan sistem di C: kecuali Anda sengaja mengubahnya lewat proses instalasi lanjutan, dan itu pun tidak disarankan untuk pengguna umum.
Sejarah penamaan drive ini menunjukkan bagaimana keputusan teknis puluhan tahun lalu bisa bertahan jauh lebih lama dari perangkat yang melahirkannya. Floppy disk mungkin sudah punah, tapi jejaknya masih terlihat setiap kali Anda membuka File Explorer dan melihat drive C: di paling atas daftar.