Flock Safety, perusahaan rintisan asal Atlanta yang didirikan pada 2017, kini menguasai lanskap pengawasan publik Amerika dengan produk yang terus meluas. Kamera ALPR (automated license plate reader) milik mereka hanya menjadi satu bagian dari ekosistem besar yang mencakup drone, perekam audio, dan trailer keamanan mobile. Semua perangkat ini terhubung dalam satu jaringan yang bisa dicari dan saling terkait — sebuah model big data yang oleh para kritikus disebut sebagai jaringan pengawasan massal nasional berbasis AI.
Kamera Bisa "Melihat" Model Mobil hingga Topi Pengendara
Teknologi Flock tidak berhenti pada pembacaan plat nomor. Kamera mereka menggunakan AI untuk menciptakan "sidik jari kendaraan" — mencatat merek, tipe bodi, warna, kerusakan, hingga aksesori seperti velg aftermarket atau roof rack. Informasi ini kemudian digabungkan dengan data pengendara dan pejalan kaki yang tertangkap kamera.
Perusahaan mengklaim sistemnya tidak menggunakan pengenalan wajah atau merekam data biometrik. Namun, mereka menawarkan fitur pencarian dengan "identifier samar" dan "bahasa alami" — misalnya, "pria berbaju biru dan topi koboi" — untuk menemukan tersangka atau orang hilang. Klaim bahwa sistem ini "tidak bisa digunakan untuk melacak orang atau kendaraan dari waktu ke waktu" dianggap kontradiktif oleh banyak pengamat.
Drone dan Mikrofon: Mata dan Telinga yang Tak Pernah Mati
Melalui program Drone as First Responder (DFR), Flock mengintegrasikan drone Alpha yang bisa diterbangkan secara otomatis ke koordinat tertentu — mulai dari panggilan 911 hingga deteksi plat nomor yang mencurigakan. Sistem ini ditenagai perangkat lunak Aerodome yang memungkinkan operator mengendalikan drone dari jarak jauh.
Yang lebih kontroversial adalah perangkat audio bernama Raven. Dipasarkan sebagai solusi deteksi tembakan, Raven sebenarnya mampu menangkap "suara kritis" yang lebih luas. Dalam materi promosi, perusahaan sempat menyebut Raven memicu peringatan untuk "teriakan" — suara manusia yang diproses oleh algoritma. Flock kemudian me