NUSA TENGGARA BARAT — Peringatan Hari Lahir Pancasila tahun ini di Istana Negara bukan sekadar seremoni. Kehadiran para mantan presiden dan wakil presiden dalam satu forum, termasuk Megawati dan Jusuf Kalla, disebut sebagai bukti nyata kohesi politik yang langka di kawasan.
Guyub Elite di Tengah Ketidakpastian Global
Bahtra Banong mengatakan kebersamaan para tokoh nasional menjadi pesan penting bahwa Indonesia memiliki modal persatuan yang kuat. "Di saat situasi atau tantangan global, geopolitik kita, geoekonomi kita yang memang membutuhkan persatuan, ini para pemimpin-pemimpin kita guyub," ujarnya di Kompleks Parlemen, Selasa (2/6/2026).
Menurutnya, keakraban antara Prabowo dan Megawati mencerminkan hubungan personal yang telah terjalin lama. "Pak Prabowo dengan Ibu Megawati punya histori persahabatan yang cukup panjang," jelas Wakil Ketua Komisi II DPR itu.
Pesan Kepemimpinan: Hormati Pendahulu, Jaga Gotong Royong
Bahtra menilai sikap Presiden Prabowo yang selalu menghormati pemimpin terdahulu patut menjadi teladan. Dalam berbagai pidato, kata dia, Prabowo konsisten mengajak seluruh elemen bangsa mengedepankan gotong royong.
"Kultur bangsa kita berbeda dengan bangsa-bangsa lain dan ini patut dicontoh," kata Bahtra.
Ia menambahkan bahwa di tengah dinamika politik nasional, hubungan baik antar tokoh bangsa merupakan aset strategis. "Pemimpin kita selama ini bisa bersatu menghadapi tantangan-tantangan," tegasnya.
Dinamika Koalisi dan Stabilitas Nasional
Momen ini muncul di saat Indonesia menghadapi tekanan eksternal, mulai dari perang dagang hingga ketegangan di Laut China Selatan. Para pengamat menilai sinyal persatuan dari pucuk pimpinan diperlukan untuk menjaga kepercayaan investor dan stabilitas domestik.
Prabowo, yang dikenal dekat dengan Megawati sejak era reformasi, kerap menunjukkan kedekatan khusus dalam setiap pertemuan. Hubungan ini dinilai menjadi perekat penting antara koalisi pemerintahan dan partai di luar kabinet.