MATARAM — BPBD Provinsi Nusa Tenggara Barat menggelar upacara bendera untuk memperingati Hari Lahir Pancasila tahun 2026. Upacara berlangsung khidmat di halaman kantor BPBD NTB yang berlokasi di Kota Mataram pada Sabtu (1/6). Seluruh pegawai dan jajaran struktural BPBD NTB hadir dalam kegiatan tersebut.
Apa Makna Upacara Hari Lahir Pancasila bagi BPBD NTB?
Peringatan ini bukan sekadar seremoni tahunan. Bagi BPBD NTB, upacara bendera menjadi momentum untuk meneguhkan kembali komitmen terhadap nilai-nilai Pancasila, khususnya dalam pelaksanaan tugas penanggulangan bencana. Provinsi NTB merupakan salah satu daerah rawan gempa bumi, tsunami, dan banjir bandang.
Dalam amanat upacara, dibacakan pidato resmi yang menekankan pentingnya gotong royong, kemanusiaan yang adil dan beradab, serta persatuan. Nilai-nilai ini dinilai relevan dengan tugas BPBD yang seringkali harus bergerak cepat dan bekerja sama lintas sektor saat terjadi bencana.
Bagaimana Suasana Upacara di Kantor BPBD NTB?
Upacara dimulai tepat pukul 08.00 WITA. Inspektur upacara memimpin jalannya pengibaran bendera Merah Putih yang diiringi lagu kebangsaan Indonesia Raya. Seluruh peserta yang mengenakan seragam dinas lapangan dan PDH tampak mengikuti rangkaian acara dengan tertib.
Setelah pengibaran bendera, rangkaian dilanjutkan dengan pembacaan teks Pancasila dan Pembukaan UUD 1945. Suasana di halaman kantor yang biasanya menjadi pusat komando penanganan bencana itu berubah menjadi arena penghormatan terhadap dasar negara.
Pesan untuk Warga NTB di Tengah Ancaman Bencana
Melalui upacara ini, BPBD Provinsi NTB juga menyampaikan pesan kepada masyarakat. Peringatan Hari Lahir Pancasila diingatkan sebagai pengingat bahwa semangat persatuan dan gotong royong adalah modal utama dalam menghadapi potensi bencana yang mengancam kapan saja.
Masyarakat diimbau untuk selalu waspada terhadap potensi bencana hidrometeorologi yang kerap melanda wilayah NTB, terutama di musim pancaroba. BPBD NTB berkomitmen untuk terus meningkatkan kesiapsiagaan berbasis pada nilai-nilai kemanusiaan yang menjadi inti dari sila kedua Pancasila.