NUSA TENGGARA BARAT — Rupiah melemah 0,43 persen pada pembukaan transaksi pagi, terbuka di level Rp17.480/USD pada pukul 09.15 WIB menurut data Refinitiv. Indeks dolar AS (DXY) menguat 0,21 persen ke posisi 98,115, menambah tekanan pada mata uang berkembang. Pelemahan rupiah terjadi seiring dengan eskalasi risiko geopolitik di Timur Tengah setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan gencatan senjata dengan Iran "di ujung tanduk".
Gencatan Senjata Iran Rapuh, Trump Sebut Respons Teheran "Tidak Dapat Diterima"
Negosiasi yang berlangsung sejak 7 April kini sangat rapuh. Iran menuntut penghentian konflik di semua front, termasuk di Lebanon, kompensasi atas kerusakan perang, pencabutan blokade laut AS, jaminan tidak ada serangan lanjutan, dan pemulihan ekspor minyaknya. Teheran juga menegaskan kendalinya atas Selat Hormuz, jalur strategis yang biasanya mengangkut sekitar 20 persen pasokan minyak dan gas dunia.
Trump merespons dengan keras, menyebut tuntutan Iran "sama sekali tidak dapat diterima." Sementara itu, Ketua Parlemen Iran Mohammad Baqer Qalibaf memperingatkan bahwa militer Iran siap merespons setiap agresi. Ketegangan ini memicu spekulasi pasar bahwa Selat Hormuz—choke point kritis bagi perdagangan energi global—berpotensi terganggu.
Minyak Brent Lonjak, Arus Kapal Melalui Hormuz Menyusut
Risiko blokade atau gangguan lalu lintas di Selat Hormuz telah mendorong harga minyak Brent Crude naik lebih dari 3 persen. Arus kapal melalui jalur tersebut sudah menunjukkan penurunan signifikan, memaksa produsen minyak untuk memangkas ekspor dan menekan pasokan global. Bagi Indonesia sebagai produsen minyak, fluktuasi harga ini akan memengaruhi penerimaan negara dari sektor migas dan daya saing ekspor nonmigas.
Pemerintah AS turut mengambil tindakan dengan menjatuhkan sanksi baru terhadap pihak-pihak yang membantu Iran mengekspor minyak ke China, langkah yang semakin meningkatkan ketegangan dan ketidakpastian pasar.
Trump-Xi di Beijing, Iran Diperkirakan Jadi Agenda Utama
Presiden Trump dijadwalkan bertemu dengan Presiden China Xi Jinping di Beijing pada hari Rabu. Negosiasi perdamaian dengan Iran diperkirakan akan menjadi salah satu isu utama dalam pertemuan tersebut, mengingat kepentingan China sebagai pembeli minyak Iran terbesar. Di dalam negeri, survei menunjukkan dua dari tiga warga Amerika menilai Trump belum menjelaskan secara rinci tujuan perang tersebut, menambah ketidakpastian investor terhadap resolusi konflik.
Jika ketegangan berlanjut atau Selat Hormuz benar-benar terganggu, dampak akan merambah ke pasar valuta emerging dan ekspor non-migas Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Rupiah akan terus tertekan selama risk sentiment tetap negatif dan dolar AS terus menguat.