MATARAM — Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Nusa Tenggara Barat menilai kemarau panjang yang melanda hampir seluruh wilayah provinsi tidak berdampak signifikan terhadap produksi padi. Angka sementara menunjukkan produksi gabah kering giling sudah berada di jalur yang hampir menyamai capaian tahun lalu.
Berdasarkan Kerangka Sampel Area Badan Pusat Statistik, produksi GKG NTB tercatat 1.687.000 ton. Capaian sepanjang 2025 mencapai 1,7 juta ton, sehingga selisihnya relatif tipis dengan sisa waktu satu bulan untuk mengejar.
Stok Bulog 200.000 Ton Jadi Penopang
Selain produksi di tingkat hulu, ketersediaan beras di gudang Bulog NTB disebut telah mencapai 200.000 ton. Stok sebesar itu menjadi bantalan bagi pemerintah daerah dalam menjaga pasokan menjelang akhir tahun.
"Jadi sudah hampir sama lah, tinggal 1 bulan insya Allah kita bisa melampaui. Jadi kalau dari segi produksi di hulu, sudah aman. Kemudian di gudang bulog, kita sudah mencapai 200.000 ton beras," kata Lalu Mirza Amir Hamzah.
Petani Beralih ke Jagung dan Hortikultura Saat Air Menipis
Pemprov NTB mengakui kemarau tetap memberi tekanan pada sektor pertanian, meski skalanya dinilai kecil. Petani di sejumlah wilayah mulai menyesuaikan jenis komoditas dengan ketersediaan air.
Padi membutuhkan pasokan air yang cukup, sehingga lahan yang kekurangan air diarahkan ke komoditas lain. Jagung, tembakau, dan tanaman hortikultura seperti kol menjadi pilihan di wilayah yang mengalami keterbatasan air.
"Ya, ada pengaruh tapi sedikit. Karena sudah ada substitusi, adaptasi komoditi. Jadi menanam tanaman disesuaikan dengan kebutuhan air," ujarnya.
Pemantauan Harian dan Tiga Kategori Lahan Terdampak
Pemprov NTB berkoordinasi dengan Balai Besar Wilayah Sungai untuk memantau kondisi lahan setiap hari. Pemantauan itu untuk mengidentifikasi lahan terdampak dan menentukan kebutuhan penanganan.
Lahan terdampak dikelompokkan dalam tiga kategori: ringan, sedang, dan berat. Dukungan pasokan air dari BBWS baru diberikan ketika tingkat kekeringan mencapai kategori sedang.
"Jadi kita memberikan info mana lahan-lahan yang terdampak. Jadi terdampak dulu, terdampak itu ada 3 kategori, ringan, sedang, berat. Jadi BBYS akan memberikan support air ketika dia sudah sedang tingkatannya," kata Lalu Mirza.
170 Hektare Lahan Jagung di Tempos Butuh Perhatian
Salah satu titik yang menjadi perhatian berada di wilayah Tempos, Kabupaten Lombok Barat. Sekitar 170 hektare lahan jagung di sana terdampak dan memerlukan penanganan.
Langkah pemantauan dan suplai air diarahkan untuk mencegah kekeringan berkembang menjadi puso atau gagal panen. Pemprov NTB menilai potensi gagal panen tetap ada, tetapi dampaknya tidak akan terlalu besar secara keseluruhan.