NUSA TENGGARA BARAT — RUPST yang digelar di Jakarta itu menyetujui pembagian dividen dari laba bersih PGN sebesar US$ 215,36 juta sepanjang tahun lalu. Dengan kurs tengah Bank Indonesia Rp 17.673 per dolar AS, nilai dividen yang dikucurkan setara Rp 3,04 triliun. Angka ini menunjukkan konsistensi PGN dalam mempertahankan rasio pembayaran dividen atau dividend payout ratio (DPR) di level 80 persen selama beberapa tahun terakhir.
Alasan di Balik Kebijakan Dividen Jumbo
Corporate Secretary PGN, Fajriyah Usman, menjelaskan bahwa keputusan mempertahankan DPR setinggi itu bukan tanpa pertimbangan. Menurut dia, rasio tersebut mencerminkan keyakinan manajemen terhadap kualitas arus kas dan disiplin keuangan perusahaan.
“Rasio pembayaran dividen kepada Pemegang Saham sebesar 80% juga mencerminkan keyakinan Perseroan terhadap kualitas cash flow, disiplin keuangan, dan kekuatan fundamental bisnis PGN di tengah dinamika industri energi global,” ujar Fajriyah dalam keterangan resmi.
PGN tetap menyeimbangkan antara kebutuhan memberikan imbal hasil ke pemegang saham dengan keberlanjutan pertumbuhan bisnis jangka panjang. Perusahaan mengaku masih memiliki fleksibilitas keuangan yang cukup untuk mendanai proyek infrastruktur gas bumi nasional.
Prospek Gas Bumi dan Strategi ke Depan
Fajriyah menambahkan, fundamental bisnis gas bumi domestik masih prospektif seiring meningkatnya kebutuhan energi nasional. Gas bumi dinilai memegang peran penting sebagai energi transisi menuju energi baru terbarukan.
Untuk menjaga kinerja, PGN mengelola portofolio gas secara adaptif, baik yang berasal dari pipa maupun LNG (liquefied natural gas). Perusahaan juga terus mengoptimalkan infrastruktur yang sudah ada serta menekan biaya operasional dan keuangan.
“Ke depan, PGN akan terus menjalankan strategi pertumbuhan secara prudent dengan tetap menerapkan disiplin keuangan dan penciptaan nilai jangka panjang bagi pemegang saham,” tegas Fajriyah.
Agenda Lain yang Disetujui RUPST
Selain dividen, RUPST tahun ini juga menyetujui sejumlah agenda strategis lainnya. Pemegang saham memberikan restu atas penggunaan laba bersih, perubahan anggaran dasar, serta penetapan auditor eksternal untuk tahun buku mendatang.
Persetujuan juga diberikan untuk rencana pengembangan bisnis dan perbaikan tata kelola perusahaan. Langkah ini menjadi bagian dari upaya PGN memperkuat posisi sebagai subholding gas di bawah Pertamina. Dengan dividen jumbo ini, PGN sekaligus memberi sinyal bahwa fundamental bisnisnya tetap solid meski harga energi global berfluktuasi.