Pencarian

Apple PHK 60 Karyawan Tim Vision Pro, Fokus Bergeser ke Kacamata AI

Jumat, 21 Agustus 2026 • 14:27:01 WIB
Apple PHK 60 Karyawan Tim Vision Pro, Fokus Bergeser ke Kacamata AI
Apple memberhentikan 60 karyawan dari tim pengembangan Vision Pro di Apple Vision Group.

NUSA TENGGARA BARAT — Laporan terbaru dari AppleInsider mengungkapkan bahwa Apple telah memberhentikan seluruh tim yang didedikasikan untuk pengembangan teknologi VR, dengan jumlah karyawan yang terdampak mencapai sedikitnya 60 orang. Para karyawan tersebut berasal dari Apple Vision Group dan posisi serupa lainnya. Hingga berita ini ditulis, Apple belum memberikan tanggapan resmi atas laporan tersebut.

Mengapa Tim Vision Pro Dibubarkan?

Kabar ini bukanlah hal yang sepenuhnya mengejutkan. Sejak lebih dari setahun lalu, Bloomberg melalui Mark Gurman telah melaporkan bahwa Apple telah membubarkan Vision Products Group (VPG). Struktur organisasi yang tadinya menggabungkan tim hardware dan software Vision dalam satu entitas, kini telah dipecah dan disebar ke dalam organisasi engineering hardware dan software Apple yang lebih besar.

Mike Rockwell, yang sebelumnya memimpin grup tersebut, kini dialihkan untuk mengawasi perombakan Siri. Langkah ini mengindikasikan bahwa Apple sedang memprioritaskan pengembangan kecerdasan buatan (AI) daripada melanjutkan pengembangan headset Vision Pro generasi baru.

Nasib visionOS dan Komitmen Apple pada Spatial Computing

Meskipun tim inti telah dibubarkan, Apple menegaskan komitmennya terhadap platform visionOS dan ambisi komputasi spasialnya. Mark Gurman menyatakan bahwa Apple tetap berkomitmen pada visi tersebut, meskipun fokus pada headset tertutup (enclosed headsets) telah dikurangi demi pengembangan wearable AI lainnya.

Pernyataan ini diperkuat oleh Steve Sinclair, Senior Director Product Marketing untuk visionOS. Dalam wawancara dengan Justin Ryan dari Spatial Insider dua bulan lalu, Sinclair menyatakan bahwa komputasi spasial masih berada di "babak awal" (early innings).

"Masih awal untuk komputasi spasial. Ada banyak hal yang kami lakukan, kami pelajari, dan terus kami tingkatkan serta investasikan. Saya berharap pembaruan seperti visionOS 27 dan semua kemampuan yang kami tambahkan, baik untuk konsumen maupun bisnis, menjadi bukti bahwa kami berinvestasi pada platform ini dan ide komputasi spasial yang tidak bisa dilakukan di perangkat lain," ujar Sinclair.

Pernyataan serupa juga pernah disampaikan oleh calon CEO Apple, John Ternus, pada bulan April. Ia menyebut Vision Pro sebagai "produk luar biasa" dan menekankan pertumbuhan kasus penggunaannya di sektor enterprise dan medis.

Harga Vision Pro yang Terus Meroket

Salah satu faktor yang menghambat adopsi massal Vision Pro adalah harganya yang selangit. Seorang komentator dengan nama pengguna JustNeedItForDev menyoroti bahwa harga USD 3.700 (sekitar Rp 61 juta) sebelum pajak terlalu mahal untuk rata-rata pengguna, bahkan untuk pengguna berat sekalipun.

Komentar tersebut merujuk pada harga terbaru Vision Pro. Pada Oktober lalu, headset ini mendapatkan upgrade chip M5 yang meningkatkan kualitas render hingga 10 persen dan refresh rate hingga 120Hz, namun tetap dibanderol USD 3.499. Kemudian, pada Juni, harga tersebut naik menjadi USD 3.699 (sekitar Rp 61 juta) akibat krisis memori yang juga mendongkrak harga produk Apple lainnya seperti Apple TV, iPad, Mac, dan HomePod.

Fokus Baru Apple: Kacamata AI

Laporan AppleInsider ini muncul di tengah kabar pergeseran prioritas Apple menuju pengembangan kacamata pintar bertenaga AI. Model pertama yang diharapkan meluncur di WWDC 2027 ini dikabarkan akan mengandalkan kamera, Siri, dan Visual Intelligence, bukan layar AR (Augmented Reality).

Awalnya, Apple berharap dapat memperkenalkan kacamata ini tahun ini dan meluncurkannya pada awal 2027. Namun, timeline tersebut mundur karena Apple sedang memikirkan ulang aspek privasi produk di tengah meningkatnya kritik terhadap kacamata AI milik Meta. Bagi pengguna di Indonesia, pergeseran fokus ini berarti masa depan inovasi Apple mungkin tidak lagi berpusat pada headset mahal, melainkan pada perangkat wearable yang lebih ringkas dan terintegrasi dengan ekosistem AI, yang berpotensi lebih relevan dengan kebutuhan sehari-hari.

Follow lombok24.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: 9to5mac.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks