BANDUNG — Inovasi digital di bidang pendidikan agama kembali lahir dari daerah. Ilham, S.Ag., M.Si., pengawas madrasah asal Kabupaten Dompu, Nusa Tenggara Barat, berhasil menyabet gelar Pengawas Madrasah Inovatif terbaik nasional tahun 2026. Penghargaan ini diberikan berkat aplikasi E-Tahfidz yang ia kembangkan untuk memetakan kemampuan mengaji siswa.
Mengapa Aplikasi E-Tahfidz Dianggap Inovatif?
Ilham melihat persoalan klasik di madrasah: guru kesulitan mendapatkan data kemampuan membaca Al-Qur’an siswa secara utuh dan terukur. Catatan manual dan data yang terserak membuat proses evaluasi dan tindak lanjut pembelajaran tahfidz tidak berjalan efektif.
E-Tahfidz hadir sebagai solusi. Platform berbasis web ini memungkinkan guru pembina memetakan level kemampuan setiap siswa secara akurat. Hasilnya, guru bisa menyusun target mingguan dan bulanan yang spesifik sesuai kebutuhan masing-masing siswa.
Proses Seleksi Ketat di Tingkat Nasional
Penghargaan ini tidak diraih dengan mudah. Ilham harus melewati proses verifikasi dokumen dan penilaian ketat dari panitia pusat KKPM. Setelah dinyatakan lolos, ia berhak menerima anugerah tertinggi dalam bidang pengawasan madrasah di Indonesia.
Ajang Silaturahmi Nasional IV dan Musyawarah Nasional III KKPM yang digelar di Hotel Ibis Trans Studio, Bandung, menjadi panggung pengumuman pemenang. Kegiatan ini mempertemukan para pengawas madrasah dari seluruh Indonesia untuk berbagi praktik terbaik.
Solusi Digital yang Inklusif untuk Semua Sekolah
“Dengan data yang valid, guru bisa menyusun target mingguan dan bulanan yang benar-benar sesuai kebutuhan tiap siswa,” ungkap Ilham menjelaskan konsep di balik aplikasi tersebut.
Keunggulan lain dari E-Tahfidz adalah sifatnya yang inklusif. Aplikasi ini tidak hanya bisa digunakan di madrasah, tetapi juga di sekolah umum. Hal ini menjadikannya solusi lintas satuan pendidikan dalam mendorong literasi Al-Qur’an di lingkungan pendidikan Islam.
Dompu Buktikan Inovasi Tak Harus dari Kota Besar
Keberhasilan Ilham menjadi bukti bahwa inovasi tidak selalu lahir dari kota-kota besar. Dari sebuah kabupaten kecil di Nusa Tenggara Barat, seorang pengawas madrasah berhasil menunjukkan bahwa tata kelola digital di bidang keagamaan bukan hanya mungkin, tetapi sudah terwujud dan diakui secara nasional.