Pencarian

UIN Mataram Kukuhkan Dua Guru Besar Sekaligus, Total Kini 73 Profesor

Kamis, 06 Agustus 2026 • 13:55:01 WIB
UIN Mataram Kukuhkan Dua Guru Besar Sekaligus, Total Kini 73 Profesor
Pengukuhan dua guru besar berlangsung khidmat di Auditorium UIN Mataram, disaksikan sivitas akademika dan mitra institusi.

MATARAM — Prosesi pengukuhan berlangsung khidmat di Auditorium UIN Mataram dan disaksikan langsung oleh sivitas akademika, keluarga, serta mitra institusi. Rektor UIN Mataram, Prof Masnun, menegaskan bahwa pencapaian ini bukanlah akhir perjalanan akademik, melainkan awal dari amanah yang jauh lebih besar bagi kedua profesor.

"Maqam guru besar memang lebih tinggi, tetapi jalan yang harus ditempuh setelahnya justru semakin terjal," pesan Prof Masnun di hadapan para undangan. Ia mengingatkan bahwa guru besar harus menjadi tempat dosen muda mencari inspirasi dan sumber rujukan akademik bagi mahasiswa.

Rekonstruksi Tafsir Integratif Ala UIN Mataram

Dalam orasi ilmiahnya, Prof Muhammad Sa'i mengangkat judul "Dari Horizon Wahyu ke Horizon Peradaban: Rekonstruksi Epistemologi Tafsir Integratif Indonesia Berbasis Paradigma Horizon Ilmu UIN Mataram". Ia menegaskan bahwa Al-Qur'an bukan sekadar kitab suci untuk ritual ibadah, melainkan sumber paradigma ilmu yang mampu menginspirasi lahirnya peradaban.

Menurutnya, Al-Qur'an hadir untuk membangun cara berpikir yang melahirkan ilmu pengetahuan sekaligus memberikan kompas etik. Hal ini dinilai krusial di tengah tantangan zaman seperti perkembangan kecerdasan buatan, disinformasi digital, hingga krisis moral.

"Teknologi dapat mempercepat pekerjaan, kecerdasan buatan mampu menghasilkan informasi, tetapi keduanya tidak dapat menggantikan hikmah, kebijaksanaan, dan akhlak yang menjadi inti ajaran Al-Qur'an," ujarnya. Ia meyakini Paradigma Horizon Ilmu UIN Mataram berpotensi menjadi model epistemologi Indonesia yang mengintegrasikan ilmu agama, sosial, sains, dan kearifan lokal.

Bahasa Arab Adaptif di Tengah Disrupsi Digital

Sementara itu, Prof Fathul Maujud membawakan orasi berjudul "Transformasi Manajemen Mutu Pendidikan Bahasa Arab Menuju Pembelajaran Bahasa Arab yang Adaptif di Era Digital". Ia menekankan bahwa bahasa Arab adalah bahasa peradaban yang menyimpan khazanah keilmuan Islam sangat luas, mulai dari tafsir, hadis, hingga sains dan kedokteran.

Prof Fathul menilai pembelajaran bahasa Arab tidak lagi cukup mengandalkan hafalan kaidah nahwu dan sharaf. Menurutnya, pendekatan seperti project-based learning, blended learning, pemanfaatan Artificial Intelligence (AI), hingga gamification perlu diintegrasikan agar bahasa Arab menjadi keterampilan hidup yang relevan.

"Keberhasilan pembelajaran harus diukur dari kemampuan peserta didik menggunakan bahasa Arab dalam kehidupan nyata, dunia akademik, riset, diplomasi, dan kolaborasi global," tegasnya. Ia menyebut transformasi digital telah mengubah wajah pendidikan secara fundamental.

Guru Besar Dituntut Lahirkan Solusi Nyata

Rektor UIN Mataram juga mengingatkan bahwa gelar profesor harus menghadirkan dampak nyata bagi masyarakat. Guru besar tidak cukup produktif dalam publikasi ilmiah, tetapi juga harus mampu menawarkan solusi atas persoalan pendidikan, keagamaan, sosial, hingga transformasi digital.

"Kampus harus menjadi pusat lahirnya solusi, dan guru besar merupakan motor penggerak perubahan tersebut melalui riset, pengabdian, serta pemikiran yang mencerahkan," kata Prof Masnun. Ia secara khusus mengapresiasi kedua profesor yang dinilai telah menunjukkan dedikasi luar biasa dalam bidang keilmuan masing-masing.

Follow lombok24.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: radarmandalika.id

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks