Pencarian

Harga Emas Antam Mandek di Rp 2,738 Juta per Gram, Buyback Masih Rp 2,531 Juta

Minggu, 07 Juni 2026 • 15:07:31 WIB
Harga Emas Antam Mandek di Rp 2,738 Juta per Gram, Buyback Masih Rp 2,531 Juta
Harga emas Antam stabil di Rp 2,738 juta per gram pada perdagangan hari ini.

NUSA TENGGARA BARAT — Mengacu pada laman resmi Logam Mulia, unit bisnis Antam, harga emas ukuran satu gram masih dibanderol Rp 2.738.000 per gram pada hari ini. Sementara itu, harga pembelian kembali alias buyback juga tak bergerak dari posisi Rp 2.531.000 per gram. Angka ini menjadi patokan bagi masyarakat yang berniat menjual emas batangan mereka ke Antam.

Berikut rincian harga emas Antam untuk berbagai pecahan:

  • 0,5 gram: Rp 1.419.000
  • 1 gram: Rp 2.738.000
  • 2 gram: Rp 5.416.000
  • 5 gram: Rp 13.465.000
  • 10 gram: Rp 26.875.000
  • 25 gram: Rp 67.062.000
  • 50 gram: Rp 134.045.000
  • 100 gram: Rp 268.012.000
  • 250 gram: Rp 669.765.000
  • 500 gram: Rp 1.339.320.000
  • 1.000 gram: Rp 2.678.600.000

Rekor Tertinggi di Januari, Kini Jauh Tertinggal

Sebagai gambaran, harga emas Antam sempat mencetak rekor tertinggi sepanjang masa pada Kamis, 29 Januari 2026, di level Rp 3.168.000 per gram. Kala itu, harga buyback juga ikut melesat ke Rp 2.989.000 per gram. Artinya, harga saat ini sudah terkoreksi lebih dari 13 persen dari puncak tersebut dalam waktu sekitar lima bulan terakhir.

Tekanan dari Luar: Data AS Pukul Emas Global

Pelemahan harga emas Antam tak lepas dari koreksi tajam di pasar global. Pada Jumat (6/6/2026), harga emas dunia di pasar spot ambrol 2,2 persen ke USD 4.375,19 per ons. Secara mingguan, logam mulia ini melemah sekitar 3,6 persen, menurut data yang dikutip dari CNBC.

Pemicunya adalah rilis data ketenagakerjaan Amerika Serikat yang jauh lebih kuat dari dugaan. Departemen Tenaga Kerja AS melaporkan jumlah tenaga kerja nonpertanian (nonfarm payrolls) bertambah 172.000 pekerjaan pada Mei 2026. Angka ini melampaui ekspektasi ekonom dalam survei Reuters yang hanya memprediksi kenaikan 85.000 pekerjaan.

Kepala Strategi Komoditas Global TD Securities, Bart Melek, mengatakan data tersebut menutup ruang bagi Federal Reserve (The Fed) untuk menurunkan suku bunga dalam waktu dekat. “Dengan masih berlangsungnya konflik di Iran serta tingginya harga energi dan tekanan inflasi, sangat kecil kemungkinan The Fed memiliki keinginan untuk menurunkan suku bunga,” ujarnya.

Dampak ke Investor: Biaya Pegang Emas Makin Mahal

Kenaikan imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS usai rilis data tenaga kerja langsung mendorong biaya peluang (opportunity cost) kepemilikan emas. Sebab, emas tidak memberikan imbal hasil seperti obligasi atau deposito. Kondisi ini membuat investor cenderung beralih ke instrumen berbunga.

Pelaku pasar kini memperkirakan peluang sekitar 68 persen bahwa The Fed akan menaikkan suku bunga pada Desember mendatang, naik signifikan dari sekitar 50 persen sebelum data ketenagakerjaan dirilis. Konflik di Timur Tengah yang pecah sejak akhir Februari lalu turut memperburuk prospek emas, memicu kenaikan harga minyak dan kekhawatiran inflasi yang berkepanjangan.

Tak hanya emas, logam mulia lain juga tertekan. Harga perak spot ambrol 5,8 persen ke USD 69,50 per ons, platinum melemah 3 persen ke USD 1.842,70 per ons, dan paladium turun 1,6 persen ke USD 1.299,25 per ons. Ketiganya juga tercatat berada di jalur penurunan secara mingguan.

Bagikan
Sumber: liputan6.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks