GIRI MENANG — Program Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Makan Bergizi Gratis (MBG) berbasis pesantren resmi diluncurkan di Yayasan Pondok Pesantren Nurul Hakim, Dusun Geresik, Desa Gelogor, Kecamatan Kediri, Selasa (12/5/2026). Peresmian ini langsung dilakukan oleh Kepala BGN Dadan Hindayana didampingi Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal, Bupati Lombok Barat Lalu Ahmad Zaini, dan Bupati Lombok Tengah Lalu Pathul Bahri.
Perputaran Uang Rp824 Miliar di NTB, 70 Persen untuk Petani Lokal
Dadan menyebutkan, di Lombok Barat sendiri saat ini terdapat sekitar 126 SPPG yang beroperasi. Artinya, Rp126 miliar uang BGN beredar di kabupaten tersebut. "Dari jumlah tersebut, 70 persen digunakan untuk bahan baku lokal. Sehingga petani, peternak dan nelayan yang senang dapat kebagian berkah program ini," ujarnya dalam sambutan.
Ia menambahkan, secara keseluruhan di NTB, perputaran uang program MBG telah mencapai Rp824 miliar. Dadan berharap angka ini terus meningkat seiring bertambahnya titik layanan di daerah.
13 Pesantren di Lombok Kini Kelola Dapur MBG Mandiri
Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal mengungkapkan, sebanyak 13 pondok pesantren di Pulau Lombok telah mendapatkan titik layanan MBG mandiri. Konsep closed loop ecosystem diterapkan di pesantren, di mana jamaah dan masyarakat sekitar terlibat langsung dalam penyediaan bahan pangan hingga distribusi.
"Ada uang yang berputar di dalam pesantren. Yang memasok kebutuhan adalah jamaahnya sendiri, yang bekerja juga jamaahnya," kata Iqbal. Ia menegaskan program MBG bukan sekadar agenda jangka pendek, melainkan investasi untuk menciptakan generasi emas Indonesia dalam 10 hingga 25 tahun ke depan.
Dapur SPPG Nurul Hakim: Melayani 5.600 Santri dan Guru
Ketua Yayasan Ponpes Nurul Hakim, TGH Muharaf Mahfuz, menyampaikan total santri di ponpes tersebut mencapai sekitar 5.200 orang, ditambah tenaga guru sekitar 1.000 orang. Untuk memenuhi kebutuhan itu, yayasan akan mengoperasikan dua dapur SPPG yang masing-masing melayani ribuan penerima manfaat.
"Dua dapur ini akan sangat membantu kebutuhan gizi santri kami," ujarnya. Yayasan juga telah menyiapkan lahan seluas lebih dari 11 hektare untuk mendukung pengembangan fasilitas program secara berkelanjutan.
Kepala BGN: Fasilitas Dapur Nurul Hakim Lampaui Standar Nasional
Dadan Hindayana menilai fasilitas dapur dan sistem pelayanan di SPPG Nurul Hakim telah melampaui standar nasional, terutama dari sisi higienitas dan kualitas layanan makanan. Ia menyebut SPPG di lingkungan pesantren menjadi langkah strategis dalam mendukung pembangunan sumber daya manusia Indonesia.
"Santri mendapatkan makan bergizi, pesantren mendapat insentif, dan lahan pesantren bisa dimanfaatkan untuk mendukung rantai pasok pangan," pungkas Dadan. Program SPPG berbasis pesantren ini diharapkan menjadi model nasional pelayanan gizi terpadu yang tidak hanya meningkatkan kesehatan santri, tetapi juga memperkuat kemandirian ekonomi pesantren dan masyarakat sekitar.