NUSA TENGGARA BARAT — BNI sedang mengkaji kemungkinan memperpanjang periode buyback saham yang akan berakhir 26 Oktober 2026, di tengah gejolak pasar modal. Opsi perpanjangan itu muncul saat kinerja perseroan justru melaju kencang, dengan total aset tumbuh 24,8 persen secara tahunan.
Corporate Secretary BNI Okki Rushartomo menyatakan perseroan menjalankan aksi korporasi secara terukur dengan mempertimbangkan kondisi pasar, kepentingan pemegang saham, dan kecukupan modal. Rencana buyback sendiri telah disampaikan lewat keterbukaan informasi pada Juli 2026, dengan jadwal pelaksanaan sampai 26 Oktober 2026.
Menurut Okki, perpanjangan periode masih sebatas opsi yang sedang dicermati. Perseroan belum menetapkan keputusan untuk melanjutkan pembelian kembali saham di luar tenggat yang disetujui dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS).
Okki menegaskan langkah pembelian kembali saham mencerminkan keyakinan manajemen terhadap fundamental dan prospek bisnis BNI. Pelaksanaannya dilakukan hati-hati dengan memperhatikan kecukupan permodalan serta tata kelola perusahaan yang baik.
"Langkah ini mencerminkan keyakinan kami terhadap fundamental dan prospek bisnis BNI yang tetap kuat. Pelaksanaan buyback dilakukan secara terukur dengan mempertimbangkan kondisi pasar dan kecukupan permodalan perseroan, serta tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian dan tata kelola perusahaan yang baik," ujar Okki dalam keterangan tertulis di Jakarta, dikutip Rabu (21/10/2026).
Pernyataan itu muncul saat pasar modal sedang bergejolak. Buyback menjadi salah satu cara emiten menopang harga saham sekaligus memberi sinyal bahwa nilai perseroan dinilai belum mencerminkan kinerja sebenarnya.
Di tengah rencana perpanjangan buyback, BNI membukukan total aset Rp 1.434,1 triliun hingga Agustus 2026, naik 24,8 persen secara tahunan (year-on-year/YoY). Penyaluran kredit tumbuh lebih cepat lagi, 27,1 persen YoY, menjadi Rp 977,2 triliun.
Dana pihak ketiga (DPK) juga mencatat ekspansi tinggi, 29,4 persen YoY, menjadi Rp 1.124,7 triliun. Pertumbuhan DPK yang melampaui kredit memberi ruang likuiditas bagi perseroan untuk melanjutkan ekspansi pembiayaan hingga akhir tahun.
Dari sisi profitabilitas, pendapatan bunga bersih BNI mencapai Rp 28,9 triliun, meningkat 14,3 persen YoY. Laba bersih tercatat Rp 14,33 triliun, tumbuh 6,9 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Okki menyatakan BNI menjaga keseimbangan antara kepentingan pemegang saham dan kebutuhan pengembangan bisnis. Kecukupan modal tetap menjadi pertimbangan agar pertumbuhan dapat berlangsung berkelanjutan.
"BNI senantiasa menjaga keseimbangan antara kepentingan pemegang saham dan kebutuhan pengembangan bisnis perseroan," kata Okki.
Dengan laba bersih yang tumbuh 6,9 persen dan kredit yang melesat 27,1 persen, BNI berada di posisi cukup kuat untuk melanjutkan buyback tanpa mengorbankan modal kerja. Keputusan final soal perpanjangan periode akan bergantung pada arah pasar hingga 26 Oktober 2026.