NUSA TENGGARA BARAT — Bunda mungkin sering mendengar orang tua lain — atau bahkan diri sendiri — melontarkan kata itu setiap anak berhasil mengerjakan sesuatu. Sayangnya, pujian semacam ini justru bisa menjadi penghambat tumbuh kembang si kecil dalam jangka panjang.
Menurut pakar psikologi olahraga dan pengasuhan anak, Jim Taylor Ph.D., pujian seperti "kamu pintar" terlalu umum dan tidak spesifik. Kalimat ini tidak menjelaskan pada anak apa sebenarnya yang ia lakukan dengan baik.
"Pujian itu tidak memberi tahu anak-anak apa tepatnya yang mereka lakukan dengan baik, dan tanpa informasi itu, mereka tidak dapat mengetahui apa yang harus dilakukan di masa depan untuk mendapatkan hasil yang sama," ungkap Taylor, dikutip dari Psychology Today.
Pujian yang berfokus pada hasil, bukan proses, juga membentuk pola pikir bahwa kecerdasan adalah sesuatu yang tetap. Anak yang menganggap dirinya "pintar" akan berpikir, 'Oh, aku pintar.' Namun saat ia melakukan kesalahan, ia justru berpikir, 'Oh tidak, ternyata aku tidak pintar.'
Akibatnya, anak-anak yang terbiasa dilabeli "pintar" cenderung sangat menghindari kesalahan. Padahal, kesalahan adalah bagian penting dari proses belajar dan mencapai kesuksesan.
Penelitian Claudia Mueller dan Carol Dweck dari Columbia University menemukan hal serupa. "Setelah kegagalan, anak-anak yang sama ini kurang gigih, menunjukkan kurang menikmati, mengaitkan kegagalan dengan kurangnya kemampuan, dan berkinerja buruk dalam upaya pencapaian di masa mendatang," jelas Taylor.
Alih-alih berani mencoba hal baru, anak mungkin bertahan di zona nyamannya. Ia tidak mau mengambil tantangan yang lebih sulit karena takut gagal dan kehilangan status "pintar" di mata orang tuanya.
Menurut Boaler, dampak negatif ini paling terasa pada anak perempuan berprestasi tinggi, terutama di bidang sains dan matematika. Ada stereotip di masyarakat yang menganggap anak perempuan tidak sebaik anak laki-laki dalam dua bidang tersebut.
"Itu berarti anak perempuan cenderung lebih menghindari tantangan dalam bidang sains dan matematika, dan keengganan untuk membuat kes