BIMA — Krisis air bersih melanda dua kecamatan di pesisir Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat, menyusul cuaca panas ekstrem yang dipicu El Nino. BPBD Kabupaten Bima mengirimkan armada tangki air ke Kecamatan Woha dan Bolo untuk menjangkau ratusan keluarga yang selama berminggu-minggu kesulitan memenuhi kebutuhan air harian.
Data dari BPBD menyebutkan, total 549 jiwa terdampak kekeringan ini. Mereka tersebar di dua lokasi: Dusun Muku, Desa Sanolo, Kecamatan Bolo, dan RT 001 serta RT 002 Desa Waduwani, Kecamatan Woha.
Armada tangki air pertama bergerak ke Dusun Muku, Desa Sanolo, Kecamatan Bolo. Petugas membagikan satu rit air bersih berkapasitas 5.000 liter untuk memenuhi kebutuhan harian 41 kepala keluarga atau 122 jiwa warga setempat.
Warga di dusun tersebut sudah berhari-hari mengandalkan pasokan air dari luar karena sumur dan sumber air lainnya mulai mengering.
Di Kecamatan Woha, BPBD mengirimkan dua rit air bersih atau setara 10.000 liter ke RT 001 dan RT 002 Desa Waduwani. Bantuan ini menjangkau 135 kepala keluarga dengan total 427 jiwa yang terdampak langsung.
Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Bima, Sadimin, mengatakan penyaluran dilakukan secara bertahap menyesuaikan permintaan dari lapangan. "Kami menerjunkan tim ke lapangan untuk menyalurkan air bersih secara bertahap. Ini adalah bentuk respons kita dari laporan warga yang mulai mengalami krisis air," ujarnya, Senin (31/8/2026).
Selain pasokan air bersih, BPBD mencatat kebutuhan akan tandon air menjadi sangat mendesak di lokasi terdampak. Fasilitas penampungan sementara dinilai penting agar proses distribusi di tingkat desa bisa berjalan lebih efektif dan tidak bergantung penuh pada kedatangan armada tangki.
"Saat ini warga sangat membutuhkan bantuan tandon air. Itu tujuannya agar proses penampungan dan distribusi air bersih di tingkat desa bisa berjalan lebih efektif," tambah Sadimin.
Sebagai langkah penanganan lanjutan, BPBD Kabupaten Bima berkoordinasi dengan jajaran kecamatan, TNI, Polri, serta pemerintah desa untuk mengkaji dampak bencana secara cepat. Pihaknya juga berkomunikasi dengan dinas terkait di tingkat kabupaten maupun Provinsi NTB untuk memperluas jangkauan bantuan.
Petugas memastikan tidak ada korban jiwa dalam krisis air ini. Namun BPBD meminta warga menghemat pemakaian air dan tetap waspada terhadap potensi bencana hidrometeorologi lain selama musim kemarau.
"Kami menghimbau seluruh masyarakat agar menggunakan air secara bijak dan efisien. Warga juga kami minta tetap waspada terhadap ancaman kebakaran hutan dan lahan, angin puting beliung, hingga potensi wabah penyakit," pungkasnya.