129 Rumah di Dusun Adat Sade Lombok Tengah Ludes Terbakar, Pelaku Wisata: Ini Ikon Budaya Sasak yang Harus Segera Dibangun Kembali

Penulis: Jefri Siahaan  •  Sabtu, 29 Agustus 2026 | 07:31:01 WIB
Petugas meninjau lokasi kebakaran yang menghanguskan 129 rumah di Dusun Adat Sade, Lombok Tengah, Sabtu (22/8/2026) malam.

PRAYA — Bagi para pelaku industri pariwisata NTB, Dusun Adat Sade bukan sekadar deretan rumah tradisional beratap ilalang. Sade adalah ikon budaya Suku Sasak yang menjadi magnet utama wisatawan, baik domestik maupun mancanegara, untuk berkunjung ke Pulau Lombok.

Ketua Association of the Indonesian Tours and Travel Agencies (ASITA) NTB, Sellywati, menegaskan Sade memiliki pengaruh besar terhadap industri pariwisata daerah. Destinasi ini hampir tidak pernah terlewat dalam paket perjalanan bertema budaya Sasak maupun rute wisata menuju kawasan selatan Lombok.

“Paket Sasak atau tour ke daerah selatan selalu kami masukkan destinasi Desa Sade,” ujarnya.

Living Culture yang Sulit Dicari di Tempat Lain

Menurut Sellywati, kekuatan utama Sade terletak pada keaslian budaya yang masih hidup di tengah masyarakatnya. Wisatawan mancanegara tidak hanya datang untuk berfoto di depan rumah adat, melainkan ingin merasakan langsung keseharian warga yang menjaga tradisi leluhur.

“Yang paling menarik bagi wisatawan mancanegara adalah budaya Sasak yang masih autentik, seperti rumah adat, tradisi, tenun, serta interaksi langsung dengan masyarakat. Sade memberikan pengalaman living culture yang sulit ditemukan di tempat lain,” jelasnya.

Pengalaman semacam itu menjadi nilai jual yang sulit digantikan oleh destinasi lain. Meski terdapat Desa Adat Ende yang juga menawarkan kekayaan budaya Sasak, Sade telah memiliki posisi kuat sebagai ikon utama di mata industri perjalanan wisata.

Destinasi Lengkap yang Selalu Masuk Rute Wisatawan ke Kuta Mandalika

Pandangan senada disampaikan Ketua Astindo NTB sekaligus Ketua Badan Promosi Pariwisata Daerah (BPPD) NTB, Sahlan M. Saleh. Ia menyebut Sade merupakan salah satu destinasi budaya penting karena menyimpan tradisi Suku Sasak yang telah berlangsung turun-temurun.

“Sade ini adalah salah satu destinasi. Memang bila kita hitung, budaya di Sade termasuk yang cukup tua dari Suku Sasak,” kata Sahlan.

Ia menambahkan, Sade menjadi destinasi paling lengkap dalam menggambarkan kehidupan budaya masyarakat Sasak. Hampir semua wisatawan yang mengambil paket perjalanan menuju kawasan Kuta, Lombok Tengah, selalu mampir ke Sade untuk merasakan pengalaman berwisata mengenal budaya Sasak.

“Selalu bila kunjungan ke kawasan Kuta, semua wisatawan menikmati suasana Sade untuk merasakan pengalaman berwisata mengenal budaya Sasak,” ujarnya.

Pemulihan Sade Dianggap sebagai Kewajiban Bersama

Bagi Sahlan, perhatian besar yang mengalir pascakebakaran merupakan hal yang wajar. Sebab, yang dipertaruhkan bukan hanya keberlangsungan sebuah destinasi wisata, tetapi juga keberadaan simbol budaya Suku Sasak itu sendiri.

“Wajar semua pihak bahu-membahu untuk mengembalikan Desa Sade hidup kembali,” tegasnya.

Ia menilai seluruh elemen, mulai dari pemerintah pusat, Pemprov NTB, Pemkab Lombok Tengah, hingga swasta, harus terus bergandengan tangan agar kehidupan masyarakat Sade segera pulih. BPPD NTB sendiri menempatkan Sade sebagai bagian penting dalam mempertahankan identitas pariwisata daerah.

“Sade sudah menjadi ikon Suku Sasak,” tandasnya.

Menteri Pariwisata Turun Tangan

Kebakaran yang melanda Dusun Adat Sade pada Sabtu (22/8/2026) malam terjadi dengan cepat. Rumah-rumah adat yang terbuat dari ilalang dan pagar sangat mudah dilalap api, diperparah dengan tidak adanya alat pemadam kebakaran di kawasan kampung tradisional tersebut.

Pascakebakaran, bantuan mengalir dari berbagai pihak. Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana bahkan turun langsung meninjau puing-puing desa adat yang terbakar pada Kamis (27/8/2026), menunjukkan bahwa Sade merupakan aset wisata nasional yang vital bagi citra pariwisata Indonesia.

Reporter: Jefri Siahaan
Sumber: globalfmlombok.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top