Cakupan Layanan Air Bersih di Lombok Utara Baru 32 Persen, Perumda Sebut Sumber Air Baku Menyusut

Penulis: Mardian Syah  •  Kamis, 27 Agustus 2026 | 01:06:32 WIB
Direktur Utama Perumda Amerta Dayan Gunung, Ramadan Jayadi, saat menyampaikan keterangan mengenai cakupan layanan air bersih di Kabupaten Lombok Utara yang baru mencapai 32 persen.

LOROK — Perumda Air Minum Daerah (Perumda) Amerta Dayan Gunung Kabupaten Lombok Utara (KLU) mengakui cakupan layanan air bersih ke rumah warga baru mencapai 32 persen, jauh dari target ideal 80 persen. Direktur Utama Perumda Amerta Dayan Gunung, Ramadan Jayadi, menyebut keterbatasan debit sumber air baku dan kondisi geologis tanah menjadi kendala utama perluasan jaringan perpipaan.

“Layanan kita baru 32 persen, di mana seharusnya sampai 80 persen. Tetapi karena keadaan air kita, sumber kita juga berkurang,” ujarnya, Rabu (26/08/2026).

Aturan Pemerintah Batasi Pengambilan Air

Ramadan menjelaskan, pengelolaan sumber air tidak bisa dilakukan maksimal karena ada ketentuan pemerintah yang mengatur pemanfaatan sumber daya air. Perumda hanya boleh mengambil sebagian kecil dari debit sumber air, sementara sisanya wajib dialirkan untuk kebutuhan irigasi pertanian dan menjaga ekosistem.

“Artinya maksimum itu sekitar 20 persen, sisanya akan lari ke pertanian dan ekosistem,” jelasnya.

Dua Kecamatan Minim Sumber Air, Jaringan Tembus 28 Kilometer

Tantangan terbesar ada di Kecamatan Tanjung dan Pemenang. Kedua wilayah ini tidak memiliki sumber air baku yang dekat dengan jaringan Perumda. Sumber air terdekat justru berada di Kecamatan Gangga, dengan jarak dari instalasi pengolahan air (IPA) menuju Pemenang mencapai sekitar 28 kilometer.

“Untuk dua kecamatan ini, kita tidak ada sumber, Kecamatan Tanjung dan Kecamatan Pemenang. Sementara jarak dari salah satu sumber kita sampai ke Pemenang sekitar 28 kilometer,” katanya.

Struktur Tanah Batu Apung Diduga Biang Air Cepat Hilang

Perumda tidak tinggal diam. Mereka menggandeng tim akademisi Universitas Brawijaya untuk mengkaji potensi sumber air baru. Tim yang berisi profesor dan doktor bidang teknik perairan itu telah melakukan penelitian geologi di wilayah KLU.

Hasil kajian awal menunjukkan struktur tanah di KLU didominasi lapisan batu apung di bawah permukaan. Kondisi ini diduga kuat menjadi penyebab tanah tidak mampu menyimpan air secara optimal.

“Mereka membuka data tentang struktur tanah kita. Ternyata tanah kita di KLU ini di bawahnya bebatuan batu apung, sehingga tidak kuat untuk menampung air yang ada,” ungkapnya.

Saat ini Perumda Amerta Dayan Gunung baru mengelola sekitar 10 sumber air untuk melayani masyarakat. Tim peneliti disebut masih melakukan pendalaman lapangan untuk mencari titik potensial baru, namun hasil akhirnya belum diterima pihak Perumda.

Pemenang Masih Banyak Warga Belum Terlayani

Ramadan memastikan pencarian sumber air baru terus dilakukan. Langkah ini dinilai krusial untuk memperluas cakupan layanan, terutama di Pemenang yang masih banyak warganya belum tersambung jaringan air perpipaan.

“Kita terus melakukan pencarian untuk menambah potensi. Karena jujur saja, untuk saat ini di Pemenang saja masih banyak yang belum bisa kita layani,” ujarnya.

Opsi Pipa Bawah Laut dan SWRO untuk Tiga Gili

Soal kebutuhan air bersih di kawasan tiga gili, Ramadan tidak menutup kemungkinan memakai alternatif teknologi. Beberapa opsi seperti pembangunan pipa bawah laut maupun teknologi Sea Water Reverse Osmosis (SWRO) masih terbuka untuk dikaji bersama.

“Kalau saya mau bilang mustahil, silakan saja. Artinya yang penting ada kajian. Kita selalu membuka ruang, mau pipa bawah laut, mau SWRO atau apa pun namanya, mari silakan,” katanya.

Pelajaran Pahit 2016: Pipa Air untuk Gili Sempat Dibakar

Ramadan mengingatkan pengalaman pahit sekitar 2016, ketika sempat ada wacana membawa air dari daratan menuju tiga gili. Rencana itu berujung petaka. Jaringan pipa yang telah dibangun mengalami kerusakan dan bahkan dibakar warga. Kerugian saat itu disebut mencapai miliaran rupiah.

“Waktu itu ada wacana air di darat ini dibawa ke tiga gili. Itu sampai terjadi kerugian sekitar miliaran. Artinya pipa dibakar semua, karena masyarakat di darat juga masih banyak yang belum terlayani,” tutupnya.

Jayadi menegaskan, keterbatasan pelayanan air bersih di KLU bukan semata-mata persoalan kerja sama atau nota kesepahaman (MoU), melainkan lebih pada kemampuan sumber air baku yang tersedia.

Reporter: Mardian Syah
Sumber: kicknews.today This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top