NUSA TENGGARA BARAT — Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG tercatat di level 5.455,12 atau turun 139,65 poin dari penutupan sebelumnya di 5.594,76. Indeks dibuka di 5.486,31 dan langsung bergerak melemah tanpa menunjukkan tanda-tanda pemulihan berarti. Tekanan jual masih mendominasi pasar saham domestik hingga menjelang pukul 09.30 WIB.
Koreksi terdalam terjadi pada saham-saham energi, khususnya emiten batu bara. Saham Super Energy tercatat ambles 12,54 persen ke level 2.510, menjadikannya yang paling tertekan di sektor ini. Disusul Raharja Energi Cepu yang melemah 8,37 persen ke 3.720 dan Rukun Raharja turun 8,16 persen ke 2.700.
Di tengah tekanan yang meluas, hanya segelintir saham energi yang mampu bertahan di zona hijau. Saham Bayan Resources mencatatkan penguatan tipis 0,79 persen ke level 9.600. Namun, apresiasi ini tidak signifikan untuk mengimbangi aksi jual besar-besaran yang terjadi di mayoritas emiten sektor energi. Saham Indo Tambangraya Megah dan Baramulti Suksessarana juga masih bertahan dengan koreksi minimal di bawah 1,5 persen.
Pelemahan IHSG pagi ini menunjukkan sentimen negatif masih membayangi pasar modal Indonesia, terutama di sektor energi yang memiliki kontribusi besar terhadap kapitalisasi pasar BEI. Belum ada katalis positif yang cukup kuat untuk membalikkan arah perdagangan. Investor cenderung mengambil posisi wait and see sambil mencermati pergerakan harga komoditas energi global dan perkembangan kebijakan domestik. Pergerakan IHSG dan saham-saham energi selanjutnya akan menjadi perhatian utama pelaku pasar pada sisa sesi perdagangan hari ini.